Header Ads

[Cerpen] Kulkas 12 Pintu Part II



Disamperin

Pojok perpustakaan adalah tempat favorit Rikka sejak dia bersekolah di SMA Madgsa. Biasanya yang dia lakukan hanya melamun sampai bel masuk berbunyi. Namun ini lamunannya terganggu gegara Athan yang tidak sengaja lewat langsung menepuk pundak Rikka pelan.

"Eh?"

"Jangan melamun. Lima menit lagi bel masuk." Kemudian Athan berlalu meninggalkan Rikka sendirian.

Yang ada di pikiran Rikka sekarang ini hanya wajah tenang Athan. Entah mengapa perasaan gundah tadi sirna. 

Di sepanjang koridor Rikka terus mengingat-ingat nametag Athan. Sampai-sampai dia nggak sadar kalau kelas yang ia masuki bukan kelas 11 IPS 2.

"Eh ada apa ya?"

Guru yang sedang mengampu kelas 12 MIPA 1 itu menegur Rikka yang berdiri di ambang pintu. Sedetik kemudian Rikka mengerjapkan mata dan mendapati ruangan yang berbeda.

"Lah saya salah kelas toh. M-maaf bu." Kemudian dia berlari karena sangat malu jadi pusat perhatian kakak kelas.

Rendy yang memperhatikan Rikka dari bangku belakang langsung saja menepuk bahu Athan, "Paan?" Responnya.

"Pasti masalah dia berat banget sampai salah masuk kelas. Kasian ya padahal masih muda."

Athan hanya mendengus pelan mendengar celetuk ngaco dari Rendy. Tapi dia rada setuju dengan masukan Rendy. Dilihat tadi waktu di pojokan perpustakaan Rikka memang seperti lagi memikirkan sesuatu yang berat.

********

Begitu membuka pintu kelas 11 IPS 2 Rikka di sambut dengan keramaian seperti pasar. Ini memang ciri khas kelas paling santuy. Ada yang lagi ghibah, memukul-mukul meja, bernyanyi, mabar, dan adapula yang tidur.

Akbar selaku ketua kelas yang selengekan tengah asik berdiri di depan kelas sambil memegang sapu,

"Tiada ku sangka sejak detik itu, kau membuka pintu jauh di hatiku..."
"Hak e hak e ololololo hok yaa."

Rame namun kelas ini sangat solid.

"Darimana lo?" Nadin yang lagi asik nyemil lays langsung menyodorkan ke Rikka, menawari. Rikka hanya menggelengkan kepala, "Nathan pindah gue jadi galau."

"Lo demen sama dia?" Tanya Anggit, senyumannya seakan ingin mengejek seorang Rikka.

"Bukan gitu dodol. Dia kan sahabat gue ya gue sedihlah kalau dia pindah nggak bilang-bilang."

"Woe Rik! Sini ikutan konser sama gue." Ajak Akbar dengan senyuman tengilnya.

"Ogah lagunya jelek."

"Ya teros mau lo lagu apa? Req sini."

Rikka nyengir, "Make A Wish."

"Lagu apaan tuh? Kalo lagu jadul malas." Sahutnya sambil mengibas-ibaskan tangannya.

"Sembarangan! Lo aja yang katrok. Itu lagunya nct u."

"Korea?"

Rikka mengangguk. 
"Lidah gue terlalu indo buat nyanyiin lagu luar." Kemudian Akbar tetap melanjutkan konser yang tertunda tadi. Tidak jadi mengajak Rikka.

"Ih si Akbar bilang aja nggak tau lagunya." Cibir Rikka dan di angguki sama teman-temannya. Kelas masih ramai karena gurunya belum datang. Ini memang jamkos apa gurunya telat datang?

"Kantin?" Ajak Lona. Hanya Anggit dan Nadin yang tidak ikut. Mereka mau tidur.

Rikka, Lona, dan Moca berjalan beriringan sambil mengendap-endap agar tidak ketahuan guru. 

"Aduh kenapa harus ada Si Botak sih?" Lenguh Moca. Di depan kamar mandi guru ada pak Mamat, guru paling killer tengah menatap sekeliling. Mungkin mengawasi.

Pak Mamat kepalanya selalu mengkilap apa lagi kalau upacara. Seperti petromak berjalan. Silau men.

Mereka bertiga bersembunyi di balik pot besar. Saling berbisik sampai tak sadar ada seseorang yang tengah berdiri di belakang mereka. Orang itu berdehem ringan namun dapat mengagetkan mereka bertiga. Rikka yang paling kaget sampai-sampai pot yang ia pegang bergetar dikit.

"Bolos dek?" Hanya orang paling populer yang memanggil adek kelasnya dengan embel-embel 'dek'. Ya siapa lagi kalau bukan Rendy. Dia ditemani Athan.

"Eh kak Rendy, enggak kok." Sahut Lona centil. Dari 3 cewek di sini hanya Rikka yang memasang tampang cuek. Sangat suram.

"Terus?" Tanyanya lagi, kali ini alis kirinya terangkat membuat damage nya naik 50%.

"Kak jangan kasih tau Pak Mamat ya kalau kita mau ke kantin please..." Kini giliran Moca sambil memohon. Rikka yang melihat tingkah temannya ini hanya memutar bola matanya jengah.

Ini saatnya Rendy menebarkan pesona bak pangeran, telapak tangannya ia daratkan di puncak kepala Moca, "Kakak nggak akan kasih tau Pak Mamat, kok. Tapi kamu sama temen-temenmu jangan lama-lama ya. Aku nggak mau anak-anakku besok bodoh mirip ibunya."

Ah sialan ini memang tidak baik untuk jantung Moca. Lona yang melihatnya menahan kakinya agar tidak bergetar.

"Jijik." Sialan si Athan merusak suasana emang. Iya sih ganteng, tapi rese.

"Bisa nggak lo diem jadi patung aja? Ganggu banget.'' Protes Rendy yang hanya di hadiahi dengusan dari Athan.

"Udah? Kalau masih lama gue mau cabut duluan." Ini Rikka memang sudah lapar banget tapi teman-temannya masih aja mematung di tempat. Akhirnya mereka bertiga, ralat, mereka berdua berpamitan ke Rendy dan Athan.

3 cewek itu sudah tak terlihat lagi setelah belokan mau ke kantin. Rendy menjitak kepala Athan, "Lihat nggak? Dua cewek aja langsung luluh sama gue."

"Hm." Athan langsung berlalu meninggalkan Rendy yang masih nyengir-nyengir sendiri karena merasa bangga dengan pesonanya.

"Dasar kulkas!"


Bersambung. . . . .


Tidak ada komentar: