Header Ads

[Cerpen] Kulkas 12 Pintu

Hari Jadi

Jakarta, 18 Oktober

Hari ini adalah harinya SMA Madgsa yang ke-26 tahun, seluruh penghuni sekolah berlalu lalang untuk menyiapkan acara penting ini. Di saat semuanya tengah sibuk mempersiapkan diri, ada satu siswi yang notabennya 'pemalas' masih meringkuh di balik selimut tebalnya.

Jam weker sudah berbunyi 30 menit yang lalu namun pemilik marga Admaja ini belum kunjung bangun.

"ARIKKAA ADMAJAA WOE SIALAN BANGUN!!

Dengan tersentak kaget Rikka langsung bangun terduduk, "Ih apaan sih toa masjid ganggu tidur orang aja.

"Eh lo enak banget ngomongnya, ini udah jam berapa ha?!"

Rikka melirik jam weker di meja nakas sebelah tempat tidurnya. Matanya langsung terbelalak ketika menit telah menunjukkan waktu kurang 15 menit lagi.

"NATHAN SIALAN KENAPA NGGAK BANGUNIN GUE DARI TADI?!"

********


Untung saja satpam sekolah tadi lagi ngobrol sama tukang kebun jadinya Rikka diam-diam bisa menyelinap masuk dari gerbang depan. Tubuh Rikka rasanya mau mati rasa lari dari rumah sampai ke sekolah. Itu karena Nathan orangnya nggak sabaran jadinya sahabatnya itu di tinggal. 

"Nathan sialan." Umpatnya penuh kejengkelan.

Rikka berlari ke kelasnya, dan mendapati teman-temannya sibuk merapikan kostum buat pertunjukan nanti.

"Eh Rik lo telat banget, ini udah mau mulai upacaranya kenapa lo masih santuy polos gini?" Nadin berucap sambil membenarkan letak kacamatanya.

"Ah diem lo kaki gue pegel banget."

"Permisi, yang mau tampil segera persiapan ya." Wakil ketua osis langsung pergi setelah memberi peringatan.

Di sini siapa aja yang akan tampil tidak akan mengikuti upacara, namun harus bergegas untuk berkumpul di ruang persiapan pentas.

5 teman Rikka sudah siap dan tinggal menuju ruangan yang sudah di siapkan, namun tinggal Rikka sendiri yang masih belum apa-apa. Tangannya sibuk mengurut pergelangan kakinya.

"Eh kayaknya kaki gue nggak bisa buat dance nanti deh. Soalnya ini sakit banget sumpah." Ringkihnya.

Moca datang dan langsung berjongkok di depan Rikka. Tangannya terulur buat ikut memijit pergelangan kaki Rikka, "Sakit banget ya Rik?"

Rikka mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya, guna mengurangi rasa nyeri.

"Ck nggak guna." Celetus Anggit,

"Maaf."

"Makanya kalau malas ya jangan kebangetan. Udah tau lo ikut serta dalam meriahkan hari jadi sekolah kita, masih aja bangun ke siangan."

Rikka hanya menunduk. Perkataan Anggit sangat pedas, namun itu benar faktanya. Harusnya tadi malam Rikka nggak boleh begadang menonton drakor. 

"Sini gue bantu jalan.

Walaupun kata-katanya sangat pedas dan menusuk hati, Anggit nggak bakal pernah meninggalkan orang terdekatnya sendirian.

Di ruang persiapan pentas, mulai dari kelas 10 sampai 12 sudah siap dengan kostum dan riasan mereka. 

"Bosan nggak ada yang ganteng." Gumam Rikka namun dapat di dengar oleh Anggit.

"Buta mata lo? Kak Rendy gitu lo kata nggak ganteng?" Tunjuknya pake dagu.

Rikka memutar bola matanya malas.

"Mata gue bosen Nggit lihat modelan buaya gitu."


Ruangan ini nggak terlalu besar jadinya sedikit berdesakan. Rikka berusaha menyembunyikan kakinya agar tidak terinjak. Namun apa daya orang dengan postur tinggi terdorong dari depan jadinya menginjak kaki Rikka.

"Akhh sakit!"

Orang itu buru-buru menghadap ke belakang dan mendapati Rikka yang tengah berjongkok memegangi ujung jari kakinya yang dirasa nyeri banget.

"Sorry, lo nggak apa-apa?"

Rikka mendongak, manik matanya bertatapan langsung dengan manik mata sehitam malam. Sangat memesona.

Lamunannya tersadar saat orang itu menjentikkan jarinya, "Fokus."

"E-eh? Iya gue baik-baik aja."

Mendengar jawaban dari Rikka, orang tersebut langsung mengganguk dan meninggalkan Rikka. 

"Ganteng sih, tapi nggak peka ya sama aja."

"Rikka lo ngapain jongkok?"

********


Acara pemotongan tumpeng telah selesai, kini tinggal bersenang-senang dengan acara pentas seni. 

"Eh Than, gue udah ganteng belum pake seragam pilot ini? Rambut gue keren belum?"

"Mulut gue berat banget buat muji lo sumpah." Jawab Athan, dengan tampangnya yang bodo amat.

Rendy hanya berdecak, namun segera merapikan rambutnya lagi. Ini sudah ke 30 kali Rendy merapikan rambutnya agar kelihatan keren. Padahal mau dia pakaikan baju compang camping aja aura cogannya tetap keluar. 

"Oke tadi pertunjukan yang sangat keren dan memukau, kali ini kami akan menampilkan sebuah fashion show dengan tema 'besar nanti mau jadi apa?' Dan untuk kelas dua belas mipa satu silakan naik keatas panggung."

Mc itu turun dari panggung dan di gantikan murid kelas 12 mipa 1. 

"Dih alay banget fashion show nya. Mana ngga ada yang ganteng lagi. Isinya cantik semua. Insinyur akuh." Celetuk Lona dan di angguki Rikka. Anggit, Nadin, dan Moca hanya geleng-geleng kepala melihat dua temannya yang haus cogan.

"Eh eh asem itu kak Rendy cakep banget buset pake style pilot. Uhh cowo idaman. Masa depannya udah keliatan ini."

"Kak Rendy I love you!"

"My husband yawlah."

"Abis ini mau minta fotbar ah."

Ya seperti itu celetuk teman-teman Rikka. Hanya Rikka sendiri yang masih duduk sambil ngipasin lehernya. Ia tidak berminat ikut meneriaki Rendy, bintang sekolah SMA Madgsa.

"Eh itu siapa kok ganteng banget?!"

Mendengar itu Rikka langsung berdiri sejajar dengan teman-temannya.

"Diaa..

********

Fotbar

Selepas acara tadi, Rendy di kerubungi kaum hawa. Mereka berebut ingin fotbar bareng sang bintang sekolah. Athan, anak baru itu hanya duduk di pinggir lapangan sambil menenggak air mineral. Cuaca hari ini begitu terik membuat semua orang menepi, memilih berteduh dari pada panas-panasan.

30 menit berlalu akhirnya Rendy dapat duduk juga. Meladeni para fans nya membuat dahaganya semakin menjadi. Direbutnya air mineral yang tinggal separo dari tangan Athan.

"Lo nggak capek ya di kerubungi orang-orang alay macam mereka?" Tanya Athan.

Rendy hampir saja menyemprotkan air yang ada di dalam mulutnya, gleg, "Itu suatu kebanggaan bro bisa jadi bintang sekolah."

"Tapi lo nggak ada prestasi."

Mendengar kalimat pedes dari mulut Athan membuat Rendy tertawa kencang, "Makanya itu walaupun gue nggak berprestasi yang penting gue populer."

"Gitu ya?"

Rendy mengangguk.

Hening beberapa detik membuat perut Athan bergemuruh. Langsung saja Rendy menarik tangan Athan dan mengajaknya buat ke kantin.

Suasana di kantin sangat ramai. Karena ini hari jadi sekolah, jadinya hanya 1 kantin yang buka. Lainnya memilih libur. Bangku di kantin itu hampir semuanya terisi.

"Woy Rendy!" Tangan lentik itu mengacung ke atas sambil melambai, "sini duduk samping gue aja."

Rendy dan Athan menuju tempat Jona yang berada di paling pojok.

"Lo kok tadi nggak kelihatan sama sekali? Bolos ya?"

Yang di tanya hanya cengar-cengir.

"Eh Jon tadi gue abis di kerubungi banyak fans hahaha." Rendy memakan bakso yang mau Jona makan.

"Nggak peduli."

"Gue mau pesen makanan."

Baru aja Athan mau berdiri, lengannya langsung di tahan sama Rendy, "Eh jangan, biar gue aja. Lo kalau mau pesen pasti nunggu yang antri kelar. Kelamaan sob."

Akhirnya di meja itu tinggal Jona dan Athan. Mereka belum saling kenal makanya diam adalah pilihan paling bagus.

"Ah iya gue kan belum bilang mau makan apa."

Athan ingin beranjak dari tempat duduknya namun lagi-lagi lengannya di tahan, kali ini Jona.

"Soto buatan Pak Amin nggak ada tandingannya. Gue jamin lo bakal suka. Anak baru kan?" Athan ngangguk, "Kenalin gue Jonatha. Panggil aja Jona."

Athan meraih uluran tangan Jona, "Athan."

"Lo anak baru tapi gue nggak pernah lihat lo di sekolah ini."

"Kalo sekarang lihat nggak?" Sahutnya sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Bisa aja lo ngelawaknya."

"Biasa aja."

Ih apasih ni orang cuek banget. Kampret-Jonatha.

Rendy akhirnya datang dengan nampan isi 2 soto dan 2 es teh. Kedatangan Rendy membuat perkenalan singkat tadi terhenti. Apa tadi termasuk perkenalan?

********


Tak terasa sudah sejam Jona main kerumahnya Rendy. Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Di rumah yang besar ini Rendy hanya tinggal dengan mamanya. Sebelum papanya meninggal, mama Rendy sangat gila kerja. Namun setelah kepergian beliau, mama Rendy lebih sering berada di dekat Rendy.

Kalau Jona dia udah dari kecil hidup berdua dengan pembantunya. Mama papanya gila kerja di Luar Negri sampai-sampai pulang ke rumah buat menjenguk anak semata wayangnya saja kadang tidak sempat. 

"Ren gue mau tanya."

Yang diajak bicara tidak menyahut. Namun telinga Rendy tetap fokus mendengarkan pertanyaan Jona.

"Athan temen lo ya? Cuek banget sih."

"Dia emang gitu. Tapi kalo lo udah kenal dia anaknya asik kok."

Jona ngangguk sambil sesekali memasukkan camilan ke mulutnya.

"Minta kontaknya sini."

Tanpa basa basi Rendy langsung mengesend nomer Athan ke Jona, "Mau akrab ya?"

"Iya dong."

""

Jonatha : Sy Jona

Athan : Yg tdi di kntn?

Jonatha : Iya

Athan : Dn

""

Sesingkat itu awalan chat mereka. Rendy yang melihat Jona berubah ekspresi langsung menghampiri, "Kenapa lo?"

"Gue nggak suka orang cuek."

"Nggak tanya."

"Ish nyebelin!" Langsung saja dia menjambak rambut Rendy tanpa aba-aba. 

"Tolol sakit!"

"Oh iya kalau lo mau akrab sama dia, lo harus tarik perhatian dia." Sambungnya.

*********


Malam ini Rikka di suruh mamanya buat belanja ke minimarket dekat rumah. Alangkah senangnya dia dapat membeli beberapa snack buat stok begadang nanti. Rikka tipe anak yang tidak mau belajar dari kesalahan. Jadinya ya gini.

"Jadinya lima puluh ribu, mbak." Mas kasir yang tampangnya cukup keren ini tersenyum manis ke arah Rikka.

"Nih saya bayar seratus ribu mas. Kembaliannya untuk mas tabung buat nikahin saya kelak AHAHAHAHAHAHAHA." Setelah tergelak cukup keras akhirnya Rikka berlari keluar toko sambil menenteng belanjaannya.

"Besok-besok gue nggak mau senyum ke pelanggan lagi. Kapok." Gumam mas kasirnya.

Berlari dari minimarket sampai rumah membuat kaki yang tadinya sudah sembuh kembali nyeri lagi.

"Yaampun kenapa pincang gini?" Tanya mama Rikka.

"Abis gombalin mas kasir langsung lari ma hehe. Takut kalau tiba-tiba masnya lempar komputernya."

Mama Rikka hanya geleng-geleng kepala sambil membantu Rikka berjalan ke kamar. Di rebahkannya tubuh langsing itu ke atas kasur. Mama Rikka langsung pergi dari kamar dan kembali ke kegiatannya tadi.

Hp yang sedari tadi bergetar membuat Rikka kepo apa yang sedang teman-temannya ini ributkan.

Ada 150 pesan sendiri dari grup mereka berlima.

""

Rikka : Rame banget pd bhs apa?

Moca : Simak dong

Rikka : Males banget 150 cht ndiri dri grup ini

Anggit : Cogan selain kak Rendy

Lona : Ganteng parah!!

Moca : Tadi harusnya kita ajak dia kenalan pas acaranya selesai

Rikka : @Moca

            Tadi harusnya kita ajak dia kenalan pas acaranya selesai

            Orangnya nyebelin


Moca : @Rikka

            Orangnya nyebelin

            Nyebelin gimana?

Rikka : Dah ah malas bahas. Gue mau tdr

Anggit : Tumben

Lona : Besok pagi aja kta bhs mas gntngnya

********


Hari ini Rikka tumben sekali sudah bangun pagi. Biasanya Nathan yang membangunkannya. Tapi ini kok tumben banget juga dia nggak ngeluarin suara cemprengnya.

"Ma, Nathan tumben nggak kesini?" Tanya Rikka, mulutnya sibuk mengunyah roti panggang.

"Lho kamu nggak tau? Nathan kan udah pindah ke Kalimantan tadi pagi-pagi buta. Dia nggak sempat ngabarin kamu soalnya kuota dia abis."

Mood Rikka seketika hancur. Nathan adalah satu-satunya sahabat cowo yang sangat perhatian kepadanya. Kenapa Nathan nggak datang langsung? Pikir Rikka.

"Dua puluh menit lagi bel masuk. Papa kamu juga sudah siap sejak tadi."

"Nathan bodoh." Lirihnya.

Mendengar itu, mama Rikka hanya bisa mengelus puncak kepala Rikka. Menyalurkan semangat walau di tinggal sahabatnya.

Bersambung.......

Tidak ada komentar: