Header Ads

[Cerpen] KYANITE


Judul : Kyanite

Pengarang : Rizki Rahmawati


"Berita hari ini, terjadi sebuah fenomena langka di pusat kota, sesuatu yang aneh telah terjadi. Batu kedamaian yang terletak di pusat kota mendadak padam, ini tidak bisa di biarkan terlalu lama. Tanpa adanya cahaya batu kedamaian, entah apa yang akan terjadi untuk beberapa hari kedepan" Saya Quenncy Renatta, melaporkan dari tempat kejadian.

Berita pagi ini cukup menggemparkan seisi rumahku, ibu yang selalu mengabaikan acara tv, kini ikut menyaksikan dengan mimik wajah yang berbeda, ayah juga ikut menyaksikan berita pagi ini.

"Ini sangat mengkhawatirkan, jika batu itu tidak segera di tangani maka dunia yang damai ini akan berubah drastis." Ibuku memberi ulasan dan di dapati anggukan setuju dari Ayah.

"Apakah separah itu bu efek samping dari hilangnya batu kedamaian?" Tanyaku

Ibu mengangguk, "Lebih baik kamu segera berangkat ke sekolah, jangan sampai telat lagi seperti hari kemarin."

Aku mengangguk, "Gevan berangkat dulu ya bu, yah."

Sepanjang jalan pikiranku terus tertuju pada batu kehidupan. Apa hari-hariku ini akan berubah drastis jika cahaya itu tak segera kembali? Pikiranmu sangat kacau, aku tidak ingin kehidupanku yang damai ini berubah. Aku harus mencari akal.

"Gevan!"

Badanku tersentak ke kehidupan nyata, orang yang baru saja memanggilku tadi adalah temanku, namanya Kyaly, "Aku tidak budeg Kya! Apa suaramu tidak bisa berkurang sedikit?" Kya memang memiliki suara yang sangat cempreng, siapa saja yang ada di dekatnya tidak akan segan-segan untuk menutupi telinganya.

"Kamu dari tadi melamun, ada apa?"

Anak yang baru saja bertanya ini namanya Zean, kalem dan tidak banyak bicara.

"Aku dari tadi kepikiran tentang batu kedamaian, aku takut kalau esok hari harus menyaksikan begitu mengerikannya kehidupan tanpa kedamaian."

"Aku juga kepikiran batu itu. Apa batu itu bisa kita pulihkan lagi?"

Kyaly menimpali, "Kita? Memangnya kita akan berpetualang sampai kamu menyebut 'kita'?"

Entah kenapa aku dan Zean memiliki pikiran yang sama. Ya. Kita yang akan menyelamatkan batu itu.

********


Setelah berunding kemarin, kita memutuskan untuk mengembalikan cahaya kedamaian itu apapun caranya. Zean dan Kya sudah meminta izin ke orangtua masing-masing dan mereka mendapat izin, sedangkan aku? Aku tak memiliki keberanian untuk membicaran misi ini ke ayah dan ibu, karena hari ini libur, aku sedikit berbohong ke ayah dan ibu mau menginap di rumah Zean dua hari. Ini kali pertama aku berbohong, apa efek itu mulai muncul di dalam diri ini? Ah sudahlah, teman-teman sudah menunggu di taman kota.

"Kamu lama sekali Gev." Cicit Kya. Aku hanya menampilkan gigi rapiku untuk membalas cicitan Kya.

Hari sudah menunjukkan pukul dua belas siang dan kita bertiga masih menjelajahi isi hutan. Hutan di Kota Zuard ini begitu luas, pohon-pohon disini sangat tinggi, semak-semaknya yang tak pernah terawat kini tingginya sedada anak SMA, medan terjal ini sangat menyulitkan kita untuk melihat ada apa di bawah sana. Takutnya ada ular berbisa yang tak sengaja keinjak atau hewan lainnya.

"Zean apa kita masih jauh dengan tujuan?"

Sebelum hari keberangkatan kita, aku mendengar nenekku sedang berbicara dengan kakek, mereka berdua ternyata mengetahui dimana letak asal batu kedamaian itu. Untungnya aku memiliki daya ingat yang cukup kuat sehingga perjalanan ini berjalan dengan lancar. Semoga.

"Aku tidak tau Kya, bukan aku yang tau rute perjalanan ini." Sahut Zean dengan wajah tenangnya. Aku tau kita semua lelah, haus, dan lapar. Namun hawa nafsu itu harus kita singkirkan jauh-jauh sebelum tujuan utama tercapai.

''Gev, kenapa nenek dan kakekmu bisa mengetahui tempat itu? Bukannya seluruh warga di Kota Zuard tidak mengetahui tempat itu kecuali pemimpin kota?"

"Aku tidah tau kenapa mereka bisa tau tempat itu. Yang penting kita harus bisa menyelamatkan kota Zuard."

Kya cuman mengangguk. Zean yang berada di depan tengah sibuk menyibak semak-semak agar memudahkan jalan kita. Tak terasa cahaya matahari makin condong ke Barat, dalam hitungan menit kita akan di sambut oleh gelapnya malam, dan aku benci kegelapan.

"Kita akan beristirahat sejenak di sini." Ujar Zean, Kya dan aku langsung ambruk ketanah, merasakan gatalnya kaki yang di sebabkan oleh semak-semak ini. Diantara kita bertiga, hanya Zean yang dapat menyalakan api unggun. Memang, hanya Zean yang bisa kita andalkan.

"Aku haus," Kya merogoh tasnya kemudia cemberut ketika mendapati botol air minumnya habis, "Apa punya kalian masih ada?" Kita berdua menggeleng.

Semoga malam ini tidak terlalu panjang agar kita bisa mencari sungai yang jernih untuk kita minum.

********

Nihil. Kita tidak berhasil menemukan sungai. Kya menangis karena tenggorokannya begitu kering. Untuk menelan ludah saja susah.

"Ah kakiku rasanya ingin putus." Keluhku. Ini hari kedua dan kita masih mengembara di hutan. Hutan ini seakan-akan mengepung dan tak mengijinkan kita untuk keluar. Untungnya daun kenopi yang lebar-lebar  ini membantu kita agar terhindar dari teriknya sinar matahari.

"Teman-teman," Zean berhenti, matanya menerawang jauh, aku dan Kya tak mengerti arti tatapan itu dan aku hanya menunggu lanjutan kalimatnya, "Satu kilometer lagi di depan sana ada gubuk tua. Semoga saja ada sedikit air dan roti untuk kita makan."

Zean sangat cermat dalam memperhatikan sekitar, aku tidak sadar selama perjalanan menuju gubuk tua itu senyumanku tidak kunjung hilang. Kya yang berada di sampingku juga ikut menampilkan gigi putih rapinya sejak tadi.

"Tua sekali gubuk ini." Ujar Kya ketika kita sudah sampai di depan gubuk. Memang ku akui gubuk ini sangat tua. Pelatarannya sangat luas namun kotor. Atap-atapnya yang terbuat dari pelepah tebu di atasnya banyak daun yang berjatuhan. Apa gubuk ini ada yang menempatinya?

"Aku akan mengetuk pintunya." Zean berjalan ke arah pintu utama, tiga kali ketukan namun sang pemilik rumah tak kunjung keluar. Zean menambah ketukannya namun tetap saja tidak ada yang menyahut. Hanya suara jangkrik yang terdengar.

Baru kakiku hendak ingin mundur selanglah, sebuah moncong pistol menempel tepat di belakang leherku. Kya dan Zean yang mengetahui itu sontak mencoba menarik tanganku namun satu moncong pistol lagi di arahkan ke Zean.

"Siapa dan mau apa kalian datang ke gubukku?!" Bau mulutnya sangat tidak sedap. Aku tebak Si Pemburu ini gemar mengonsumsi rokok.

"Kita bertiga datang baik-baik untuk meminta segelas air dan roti jika anda mengijinkan. Karena perjalanan jauh, bekal kita sudah tandas di tengah jalan."

Pemburu itu tidak langsung menurunkan pistolnya, "Apa hanya itu tujuan kalian?" Zean melirik Kya dan mengangguk. Aku merasakan moncong pistol itu sudah tidak singgah lagi di belakang kepalaku, "Masuklah." Lanjutnya.

Tak kusangka ternyata didalam gubuk ini sangat rapi dan bersih. Namun bau asap rokok lebih mendominan di sini.

"Maaf sudah membuat kalian kaget, dan selamat datang di gubuk kecilku. Disini aku tinggal sendirian, istriku telah meninggal dunia dua tahun lalu. Anak-anakku telah menikah dan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya."

"Sebentar, bolehkan kita minum dulu? Tenggorokanku sakit banget."

Aku melotot saat Kya berbicara seperti itu, "Kya! Tidak sopan tau nggak?" Tegurku.

"Hohoho maaf aku kelupaan, akan kubawakan tiga gelas air minum."

Tak lama kemudian Si Pemburu itu datang dengan nampan berisi tiga gelas air minum.

"M-mana rotinya?" Aduh ini si Kyaly tidak taukah kalau pertanyaannya sangat tidak sopan? Aku dan Zean hanya saling pandang sambil geleng-geleng kepala.

 "Aku tidak pernah makan roti gadis kecil, jadi di sini tidak ada roti."

********

Ini malam keduaku didalam hutan. Seharusnya besok pagi aku sudah sampai dirumah. Ibu dan ayah pasti sangat khawatir jika tau aku tidak berada du rumah Zean. Hmm aku rindu suasana rumah. Ayah dan ibu lagi apa ya?

"Merindukan rumah?" Si Pemburu datang dengan sepuntung rokok di tangannya. Ia menyesapnya kemudian mnyebulnya ke udara.

Aku hanya tersenyum kemudian mengangguk sebagai jawaban.

"Aku tau ini berat untuk kalian namun kalian harus tau satu hal, bersama lebih baik dari pada sendirian. Aku turut prihatin dengan kondisi kotamu. Semoga kalian dapat mengembalikan senyum warga Kota Zuard. Masuklah jika kamu tidak ingin di melihat hal-hal aneh."

"Terimakasih nasihatnya dan juga masuklah kalau tidak ingin masuk angin."

Benar kata Si Pemburu itu, bersama lebih baik dari pada sendirian. Semoga besok pagi kita dapat menemukan lembah kedamaian.

********

"Berhati-hatilah kalian!"

Kita bertiga melambaikan tangan bersamaan kearah gubuk tua. Disana Si Pemburu yang belum ku ketaui namanya juga ikut melambaikan tangan. Mungkin jika kita bertemu lagi aku akan bertanya siapa namanya.

"Lima kilometer ke utara dan kita akan sampai ke lembah kedamaian."

Semak-semak ini tak kunjung menipis, malah semakin lebat. Kya sudah dua kali terjatuh karena tidurnya yang kurang nyenyak. Katanya semalam nyamuk sebesar kelingking bayi terus saja berterbangan di sekitar daun telinganya. Dan itu memang sangat menganggu.

"Apa kalian menyesali perjalanan ini?" Aku membuka sembarang topik untuk memecah keheningan.

"Iya. Aku sangat menyesal kenapa tidak membawa banyak makanan dan minuman jika tau perjalanannya sejauh ini." Itu jawaban Kya.

"Tidak. Aku tidak akan pernah menyesali apapun jika itu menyangkut senyum warga kota Zuard." Jawaban Zean membuat air mataku hampir menetes. Kya sudah menangis tersedu-sedu.

"Kita sampai." Aku yang berjalan paling depan bisa langsung menyaksikan betapa luas dan indahnya lembah kedamaian ini.

 "A-aku tidak menyangka kita akan berhasil."

"Bergegaslah sebelum kota Zuard benar-benar berubah total." Zean lebih dulu turun ke bawah. Matanya menatap sekitar dengan cermat. Aku dan Kya turun bersamaan. Lembah ini sangat nyaman. Rumput-rumpunya sangat halus, nyaman untuk tidur.

"Kya apa kamu mau__"

"GEVAN TOLONG AKU!!"

"ASTAGA BATU YANG ZEAN PEGANG MASIH MURNI!! BERTAHANLAH SEBENTAR KYALY!"

Ini sangat diluar nalar. Kenapa aku tidak memberitahu mereka terlebih dahulu kalau batu kedamaian yang masih murni akan membuat siapa saja yang membawanya akan dikendalikan seutuhnya oleh batu itu.

Kya terus berlari sambil merunduk untuk menghindari leparan batu dari Zean. Sesekali dia meraung marah saat lemparan itu tidak mengenai Kya. Aku harus apa aku harus apa! Kali ini pikiranku buntu.

Lalu aku teringat kata-kata kakek, "batu itu akan menurut pada tuannya yang bermata biru laut."

"KYALY!" dia menoleh sambil lari-larian, "REBUT BATU ITU DARI ZEAN! KAMU PEMILIK SI MATA BIRU LAUT ITU!"

Seperti yang aku perintahkan, Kya menjegal kaki Zean sampai tersungkur ke tanah. Ini kesempatan untuk Kya merebut batu itu dari tangan Zean. Namun sayangnya kaki panjang Zean berhasil menendang perut Kya. Sekarang giliran Kya yang tersungkur ke tanah dengan luka lebam di siku-sikunya. Zean mengambil potongan kayu, gerakannya begitu cepat sampai-sampai Kya menjerit ketakutan. Namun potongan kayu itu terlontar ke belakang berkat bantuan dari seseorang. Seseorang yang baru saja kita tinggal tiga jam yang lalu. Ini kesempatan Kya untuk merebut batu itu.

"Hah berhasil!"

Bola mata Zean yang tadinya hitam kelam, kini kembali menjadi ungu. Dia sudah sadar. Kuhampiri mereka berdua, "Kalian tidak apa-apa?" Pertanyaan itu lebih dulu Si Pemburu lontarkan. Kita bertiga mengangguk bersamaan.

"Kenapa badanku sakit semua?" Tanya Zean. Aku hanya menjawabnya akan menceritakan kejadian tadi setelah sampai rumah.

Kya berdiri, menghadap matahari yang mulai condong ke Barat. Tangannya mengepalkan batu itu.

"Kya apa yang kamu lakukan?"

"Setiap kebaikan pasti butuh pengorbanankan? Sampaikan sama mama papa kalau anaknya memilih untuk mengorbankan diri demi seulas senyum warga Kota Zuard."

Kya terdiam, tangan yang mengepal tadi ia taruh di depan dada. Mata biru laut itu bersinar sangat terang. Mataku sangat silau melihat ini. Perlahan cahaya itu berpindah pada batu hitam itu. Selesai. Semuanya telah selesai. Kota Zuard tidak akan mengalami perubahan dan aku, kehilangan cinta pertamaku.

"Batu ini akan ku beri nama kyanite, yang artinya memberikan kehidupan yang damai dan seimbang." Ujarku dan di angguki setuju oleh Si Pemburu dan Zean.

********

Setahun kemudian..

"Gev, mau kemana?"

"Seperti biasa, duluan ya."

Semenjak kejadian itu, kota Zuard kembali seperti semula. Penuh cinta dan damai. Aku sangat menyayangi kota ini. Kota ini memberikan banyak kenangan bersama keluarga dan sahabat.

"Kya, aku harap kamu dapat melihat ini. Ini keinginanmu kan? Mengembalikan senyum warga Kota Zuard. Jika saja kamu masih ada di sini, mungkin aku akan membawa ayah dan ibu untuk melamarmu." Untuk kali ini aku tidak akan menangis, aku tidak ingin membuat Kya sedih di sana

Tidak ada komentar: