Header Ads

[Cerpen] IPS vs MIPA Part I



Di pagi hari yang cerah, nampaklah seseorang yang sedang meringkuh di sebuah ruangan yang amat besar. Matahari memasuki kamar tersebut melalui celah celah tirai yang tergerai bebas. Angin sepoi sepoi masuk ke kamar tersebut dan memainkan anak rambutnya. 

Srakkk.....Suara tirai tirai besar di buka dengan paksa membuat cahaya matahari mengenai tubuh seseorang yang sedang tidur. Langkah kaki yang mendekatinya membuat bising seketika. 

"Ayaaa, bangunn. Udah jam 6 tapi kamu masih tidur? Ga sopan. Ayok Cepetan bangun. Makanan udah siap di bawah." Suara yang menggema di kamar tersebut membuat seseorang yang sedang tertidur langsung terperanjat duduk di kasur. Sesekali dia mengucek matanya yang masih berat karena kantuk.

"Mandi gih. Anak perempuan kok bangunnya siang. Mama tunggu di bawah." Ucap seorang wanita yang di panggil dengan sebutan 'mama'. Ya. Dia adalah mamanya anak perempuan tersebut. 

"Iya maa." Jawab perempuan tersebut sembari berjalan loyo ke arah kamar mandi yang ada di pojok kamar. Tidak butuh waktu lama, perempuan tersebut sudah siap untuk sarapan pagi 

"Aya" ucap seorang lelaki yang di panggil dengan sebutan 'papa'. Ya, Aya adalah nama perempuan tersebut. "Sini nak, sarapan bareng." Lanjut papanya yang sedang menyendok nasi. 

"Aya kesiangan pa, aya mau sarapan roti sama susu aja." Ucap aya yang langsung mengolehkan selai coklat di atas roti, kemudian meneguk segelas susu segar. 

"Nak, ini mama udah siapin bekelnya. Jangan lupa di makan ya." Ucap mama aya yang langsung memasukkan bekel tersebut ke dalam ransel aya. 

"Makasih ya ma. Ayok pa kita berangkat." Ucap aya kemudian berpamitan ke mamanya. Kemudian aya dan papanya masuk ke mobil dan meninggalkan halaman rumah. 

********

Di sisi lain "Bang, bangun udah jam berapa ini masih molor aja tu mata." Ucap seorang adik yang sedang membangunkan kakaknya yang tengah tertidur. 

"Enghh? Jam berapa sih ini?" Tanya kakak tersebut sambil mengucek matanya. 

"Udahh setengah 7 bangg. Cepetan mandi sono. Adek ga mau telat gara gara abang kesiangan." Ucap adek tersebut dengan intonasi marah 

"Busett ngapain ga bangunin abang dari tadi?! Duhh." Ucap kakak tersebut sambil berlari ke kamar mandi." 

"Dia yang salah malah nyalahin orang." Ucap adek tersebut ke diri sendiri. 

Hanya butuh 5 menit buat mandi, kakak laki laki tersebut sudah menaiki motor sport hitamnya. Tanpa di suruh, si adek langsung menaiki motor tersebut. Jarak antara sekolah adeknya sama sekolah kakaknya hanya berdekatan. Jadi tidak membuang buang waktu banyak. 

"Bang, adek masuk dulu ya. Nanti ga usah jemput. Adek nanti pulang jalan kaki aja sama temen temen." kata si adek dan di selingi dengan salam ke kakak 

"Iyaa. Belajar yang bener ya dek. Abang berangkat dulu." Kata kakak tersebut lalu di angguki oleh adeknya. Kakak tersebut melaju menuju sekolahnya.

********

Tahun ajaran baru. Anak anak baru mulai berdatangan. Kelas 10 menjadi kelas 11, kelas 11 menjadi kelas 12, sedangkan kelas 12 lulus. Dan sekarang aya kelas 12.

Di depan gerbang sekolah, sebuah mobil mewah berhenti dan keluarlah aya yang sedang berpamitan sama papa nya. Sedangkan di parkiran, terparkirlah sebuah motor sport hitam yang mengkilat dan turunlah seorang laki laki tampan. 

Saat hendak bersalaman sama guru, aya dan laki laki itu secara bersamaan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan guru. Aya sama laki laki tersebut reflek saling tatap 

"Lo duluan aja." Ucap aya dengan intonasi sopan. Tanpa jawaban, laki laki tersebut lalu menyalami gurunya dan bergegas berjalan melewati koridor. Begitupun aya yang bergegas berjalan ke koridor setelah menyalami guru tersebut.

"Bayuu." Sapa seseorang yang tengah berdiri di bawah ambang pintu. Ya. Bayu adalah nama laki laki tersebut. "Tumben lo kesiangan? Btw lo udah sarapan belum?" Tanya wanita tersebut, yang kemudian di acuhkan oleh bayu

"Kok diem aja sih bay, gua bawa brownies nih. Gua siapin buat lo sarapan." Ucap wanita tersebut sambil menyodorkan tuppwere unggunya yang berisi brownies.

"Makasih ya. Tapi gue lagi ga laper. Lo kasih aja ke Doni. Dia kan suka makanan manis." Ucap bayu setelah melihat tuppwere tersebut.

"A-ah iya. Doni, nih gue kasih ko brownies. Katanya bayu ga laper jadi gue kasih ke lo aja." Ucap cewek tersebut dan di susul dengan uluran tangan saat mengambil tuppwere tersebut. 

"Makasih ya, Re." Sahut doni. Ya. Rere adalah nama cewek yang ngasih brownies

********

"Aya, tumben lo kesiangan. Pasti lo begadang liat drakor ya?" Ucap teman sebangku aya.
 
"Ehehe tau aja lo ca." Sahut aya. Ya. Nama temen sebangkunya namanya Caca.

"Eh ca, tadi pagi kan gua mau salaman sama guru, terus ada anak cowok yang barengan gitu sama gua yang mau salaman guru," ucap aya 

"Terus?" Tanya caca yang kepo dengan kelanjutan ceritanya.
 
"Gua bilang gini 'Io aja dulu, terus dianya ga jawab langsung nyalamin guru terus jalan." Ucap aya yang sudah selesai bercerita.

"Cuek banget yak dia?" Tanya caca yang semakin kepo

"Kayaknya sih iya. Baru kali ini gue di cuekin cowok." Ucap aya sambil menyenderkan pundaknya ke bangku sambil melipat tangannya didepan dada.

"Ga usah dipikirin. Mending kita siap siap ngeluarin buku matematika aja. Sekarang kan jam pertama guru kiler. Wahhh geblekk gua lupa ngerjain pr.Ayaa," pinta caca dengan mata berbinar binar

"Iyaa. Nih." Ucap aya sambil menyodorkan buku pr nya.

"Makasihh ayaa. Ihh baik banget deh." Ucap caca sambil mencoel pipi aya.

"Kebiasaan deh. Hhh udah sono kerjain." Sahut aya. Tanpa di suruh lagi, caca langsung menyalin pr aya. Aya termasuk murid terpandai seangkatan ips.

********

Suasana kantin di SMA Nusantara sangat rame karena di penuhi anak anak yang kelaparan. Bukan hanya di kantin, ada juga sebagian anak anak yang lebih memilih di lapangan buat bermain basket. Tapi aya dan caca lebih memilih ke kantin buat beli soto.

"Ca, lo tunggu sini aja ya. Gua pesenin buat lo." Ucap aya yang sudah berlalu menuju kerumunan anak yang sedang memesan soto. Caca menurut dan langsung memilih tempat yang kosong.

Sekarang aya sedang membawa satu nampan yang berisikan 2 soto dan 2 es teh manis. Saat hendak menuju meja yang di duduki Caca, sikut Aya ga sengaja nyenggol pucuk kepala Bayu yang sedang duduk sama Doni. 

"Ehh maaf, gue ga sengaja." Ucap Aya yang segera meminta maaf dengan intonasi bersalah. 

"Jalan pake mata dong. Sakit tau ga!" Sahut Bayu dengan intonasi marah. 

"Woww woless broo, dia juga ga sengaja kan." Tiba tiba Doni ikut menyahut. Membela Aya yang beneran tidak sengaja

"Lo temen gue apa dia sih. Belain gue dong." Ucap Bayu yang ga terima 

Brakk... Suara gebrakan dari tangan Aya membuat seketika hening, lalu kembali menyantap makanannya kembali.

"Temen lo bener. Gue ga salah!" Ucap Aya sambil mengepalkan tangannya.

"Lo nyolot banget sih. Lo anak ips kan? Mulai sekarang, angkatan lo sama angkatan gue perang." Ucap Bayu sambil mengacungkan telunjuknya tepat di depan muka Aya.

"Okee fine." Sahut Aya sambil meremet telunjuk bayu. Bayu hanya meringis kesakitan. 

"Lo kenapa ay?" Tanya Caca yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya ribut dari kejauhan.

"Itu gua ga tau namanya, buat masalah ke gua." Ucap Aya yang masih memasang muka masam nya

"Coba lo ceritain kronologinya." Aya pun menceritakan kronologi tersebut dari A sampe Z. Caca mulai mencerna setiap kalimat yang di lontarin sahabatnya itu.

"Wahh kurang ajar bener tu anak, oke mulai sekarang anak ips vs anak mipa. Gue ga takut. Tenang Ay, gue sebagai sahabat lo bakalan membela lo." Ucap caca yang di penuhi rasa semangat. Aya seneng ternyata sahabatnya peduli banget sama dia.

Di sisi lain
"Lo beneran Bay nantangin tu cewek?" Ucap Doni yang masih terkejut sama ucapan Bayu tadi.

"Iyalahh. Masa' gue bercanda." Sahut Bayu sambil memutar bola matanya.

"Lo harus tau ya Bay, dia tu Aya lho Bay, Ayaaa. Cewek penguasa angkatan ips. Jago dalam segala bidang olah raga." Ucap Doni sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi Bayu.

"Ihh apaan sih lo. Lepasin ga. Jijiq gue. Pokoknya titik ga pake tawar menawar lagi. Kita, angkatan mipa bakalan bermusuhan sama angkatan ips." Ucap Bayu yang berusaha melepaskan diri dari tangkupan tangan Doni.

"Kalo itu kemauan lo, gue ikut aja Bay. Lo sahabat gue. Dan sebagai sahabat gue harus dukung lo. Lo kan juga king nya angkatan mipa." Ucap Doni sambil sumringah. Bayu hanya tersenyum puas akan dukungan doni sahabatnya.

********

Anak IPS 
Gue = temen temen gue mau kasih kabar penting
Ferdi'S = apa beb?
Nayya = apa ay?
Abi = beb mbahmuu @ferdi'S
Gue = sekarang angkatan ips sama mipa musuhannn
Jaka'S = kenapa?
Mala'S = ???
Yogi = ???
Abi = ???
Caca = karena Bayu si king mipa ngajak Aya buat musuhan. Kalian semua harus ikut membela Aya. Jadi sekarang sudah ditentukan. Mipa vs Ips!!
Gue = Yang barusan Caca bilang bener. Lo semua harus dukung gue buat jatuhin si Bayu sombong itu
Yahya'S = Tanpa lo suruh, kita semua ikut terus apa keputusan lo ay.
Gue = Makasih ya temen temen. Yang lain di beri tau. 

Di sisi lain 

Anak Mipa
Gue = gue putusin sekarang, bahwa mipa vs dengan ips. Ga boleh ada yang protes.
Vino'A = siapp bos
Aan'A = ???
Mita = ???
Nanda'A = ???
Gue = Yang lain di beritahu

Keadaan kelas 12 sedikit hening. Atmosfer sedikit memanas setiap angkatan mipa berpapasan dengan angkatan ips. Mata saling tatap tajam, bahu saling beradu, bahkan adu mulut mulai terdengar di telinga.

Saat Aya hendak menaiki tangga, pas sekali di hadapannya berdiri tegak seorang Bayu yang hendak turun. Mereka saking tatap muka dalam diam. Hanya terlihat muka masam yang ada.

"Minggir lo." Ucap Aya yang sedari tadi nahan emosi.

"Lo yang minggir." Sahut Bayu tak kalah ketus. Dengan cekatan tangan Aya maju menarik seragam Bayu sehingga seragam tersebut berantakan. Lalu aya mulai menaiki anak tangga satu persatu.

"Cewek preman." Ucap Bayu yang masih di bawah menatap Aya yang mulai berjalan ke atas. "Tunggu pembalasan gue." Lanjutnya lalu pergi meninggalkan anak tangga terakhir 

"Eh kenapa muka lo masam banget?" Tanya Caca saat Aya sudah mengambrukkan badannya di kursi.

"Gue ketemu Bayu." Ucap Aya malas sambil memalingkan wajahnya.

"HAHHH?" Seketika semua anak yang ada di kelas tersebut berseru bersamaan dan langsung mengkrubungi meja Aya.

"Kok bisa? Bukanya lantai mipa ada di anak tangga sebelah ya?" Ucap salah seorang temen yang ada di depan Aya.

"Ga tau. Tadi gue mau ke atas, terus dari atas ada si bayu. Gua bilang minggir tapi di malah suruh gue yang minggir. Ya gue kaga mau lah. Terus gue tarik seragamnya sampe berantakan." Aya mengkahiri ceritanya dengan menyenderkan punggungnya di kursi.

"Woww keren banget lo Ay. Kita juga harus bisa sekeren Aya waktu berhadapan dengan anak mipa." Ucap Caca sambil berdiri dan mengepalkan tangannya. Seketika kelas menjadi rame saat anak anak berseru semangat.

Jam terakhir adalah jam olahraga. Saat Aya dan yang lainnya memasuki lapangan, tiba tiba segerombol anak mipa 1 juga berkumpul di lapangan. Bukannya jam kita ga bareng ya? Kok bisa sih? Batin Aya. 

"Nah anak anak, hari ini kalian olahraga bareng, soalnya bu nina kemarin ga masuk sampe sekarang di karenakan sakit. Oleh karena itu, ips 1 dan mipa 1 jamnya di gabungin." Ucap pak tanto. 

"Kita akan memulai pemanasan." Kemudian pak tanto menyuruh kita buat berbanjar. Eitts tapi kelas Aya ga jejer sama mipa. Ips di sebelah kanan pak tanto sedangkan mipa di kirinya pak tanto. Pemanasan di mulai.

Setelah pemanasan di mulai, pak tanto menyuruh kita bermain basket. Nahh ini yang paling di sukai Aya. Putri lawan putri dan putra lawan putra.

"Akhrinya gue bisa adu sama lo Ay." Kata rere sambil menatap tajam aya. Aya hanya nyengir sambil memutar bola matanya. "Lo bakalan kalah di tangan gue." Lanjutnya sambil membalikkan jempolnya ke bawah. Dengan senang hati Aya memegang jempol rere terus membalikkan lagi ke atas.

Kemudian gantian Aya yang menbalikkan jempolnya ke bawah." Lo yang bakalan kalah." Ucap Aya sambil berlalu.

Prittt.......
Bola di lempar ke atas, lalu dengan sigap Aya menangkap bola tersebut. Aya mendrible 3 kali lalu mengoper ke temannya. Kemudian Aya berlari mendekati ring, saat hampir dekat, teman Aya mengoper lagi ke arah aya. Dengan posisi mantab. Aya langsung mencetak poin pertama.

Suara hiruk pikuk terdengar di area lapangan. Rere hanya mengepalkan tangan dan menggeram marah. 

Saatnya istirahat sejenak. Aya memilih duduk sambil selonjoran. Tiba tiba dari arah utara, ada sebuah bola yang datang ke arah Aya yang mengakibatkan kepala Aya mengenai bola tersebut. Saat itu Aya sedang minum dan kemudian tersedak.

"Woee punya siapa nih bola. Sakit woee." Ucap Aya marah marah. Lalu mengambil bola tersebut.

"Punya gue. Sini balikin." Suara berat khas Bayu menghampiri Aya. Bukanya minta maaf malah langsung minta di kembalikin.

"Oh punya lo? Nih." Dengan sigap, bola yang ada di tangannya di lempar ke arah muka Bayu. Bayu kaget sampe sampe bola tersebut melayang mengenai wajahnya.

"Bangsat!" Ucapnya sambil mengelus elus jidatnya.

"Pakk tantoo, bayuu ngucapin kalimat kotorrr." Suara Aya membuat Pak Tanto yang sedang berteduh menjadi terperanjat dari tempatnya dan menghampiri kami.

"Hah? Kamu bilang apa Bay?" Tanya Pak Tanto sambil menatap tajam. Pak tanto tipe orang yang benci sama perkataan kotor. Apalagi anak kecil yang berkata kotor.

"Eng-engga pak, Aya salah denger." Elak Bayu membuat Pak Tanto terpedaya. Aya hanya cengengesan melihat muka Bayu yang tadinya songong jadi ciut. Pak tanto kembali ke tempatnya.

"Fuck." Ucap Bayu sambil memperlihatkan jari tengahnya kehadapan Aya. Aya ga kalah, dia juga memperlihatkan jari tengahnya ke Bayu. Bayu langsung meninggalkan Aya yang sedang duduk.

********

"Banggg, temenin adek beli camilan dongg." Ucap adek Bayu dari balik pintu kamarnya.

"Sebentar dek, abang pake baju dulu." Jawab Bayu dari dalem kamar. Ga butuh waktu lama, Bayu keluar. Mengenakan jeans hitam sama T-shirt hitam. Tak lupa mengenakan topi.

"Lama banget lo bang,." Ucap adek Bayu yang sudah siap dari tadi. Tanpa banyak bicara, mereka berdua pergi menuju mall deket rumahnya.

"Beli secukupnya. Soalnya mama sama papa belum kirim uang." Ucap Bayu sambil mengacak acak pucuk rambut adeknya.

"Iyaa. Eh bang, ambilin Makanan yang mau di ambil kakak itu dong." Ucap adek Bayu, Bayu pun mengikuti arah yang di tunjuk adeknya. Di sana ada seorang cewek yang hendak mengambil makanan tersebut.

"Dek, itu kan mau di ambil kakaknya. Ga boleh ngerebut seenaknya dong. Ga sopan." Ucap Bayu sambil berjongkok.

"Aaa abangg, adek mau ngerasain samyang ituu." Ucap adek Bayu sambil merengek. Karena ga tega melihat adek perempuannya, di mendekati samyang tersebut lalu, hupp

"Woee lu ga sopan banget sih. ltu kan harusnya guee yang ambil." Ucap wanita tersebut yang ternyata Aya.

"Sapa suruh lo pendek?" Cerca Bayu sambil ngasih samyang ke adeknya.

"Tapi kan itu gue dulu yang mau ambil." Ucap Aya sambil melotot, matanya memerah kaya mau nangis. Entah kenapa Aya sangat mendambakan samyang tersebut.

"Ah maaf kak, ini saya kembalikan ke kakak aja. Maaf membuat kakak dan abang malah saling bertengkar." Tiba tiba adek Bayu maju mendekati Aya yang sedang mengelap pipinya yang basah sedikit.

"Ahh engga, buat adek aja. Kakak pergi dulu ya." Ucap Aya sambil berlalu meninggalkan mereka berdua.

"Bangg, seharusnya abang ga boleh begitu ke kakak tadi. Apalagi kakak tadi hampir nangis. Abang ga punya perasaan banget sih." Ucap adek Bayu sambil marah marah

"Kan adek sendiri yang minta di ambilin. Ya abang ambilin lah." Sahut Bayu tak mau kalah

"Ini sikap abang yang adek benci, ga mau kalah. Udah mending kita pulang aja. Bikin mood mau belanja jadi ancur." Ucap adek Bayu sambil meninggalkan bayu. Bayu masih bingung kenapa adeknya jadi mudah baperan. Mungkin adek Bayu sedang masa puber nya. Kemudian Bayu menyusul adeknya yang sudah ikut mengantre

Aya pulang kerumah langsung menuju kamarnya dan memeluk boneka pandanya yang besar. Hiks hiks hiks Dari luar suara isak tangis Aya terdengar oleh mamanya. Mamanya langsung masuk pelan pelan

"Aya, kamu kenapa nak?" Suara mama Aya yang begitu lembut membuat Aya langsung memeluk mamanya.

"Maa, hiks hiks," ucap Aya di sela tangisnya.

"Ssttt, diem dulu, kenapa? Cerita sama mama." Ucap mamanya sambil mengelus elus rambut Aya yang tergerai panjang.

"Tadi waktu ke mall, Aya mau beli samyang. Tapi ada musuh Aya sama adeknya lagi belanja. Aya kan pendek, jadi ga bisa ambil samyang yang di atas. Tiba tiba musuh Aya tu ambil samyang yang mau Aya ambil ma. Aya udah meminta buat kembaliin samyang itu, tapi dia kekeh ga mau kembaliin. Malahan di bilang 'sapa surah lo pendek. Gitu ma, hiks." Ucap Aya sambil mempererat pelukannya.

"Haduhh anak mama masih aja ya, udahh ga usah nangis. Besok mama beliin 10 samyang yang Aya mau." Tawar mama, yang membuat Aya seketika berhenti nangis lalu merubah raut mukanya yang tadinya mendung beruba jadi cerah.

"Beneran ma? Janji?" Ucap Aya sambil memperlihatkan kelingkingnya.

"Iyaa, janji. Udahh ya berhenti nangisnya." Ucap mama Aya sambil menyambar kelingking aya.

Balas Dendam

Hari ini Aya dan Caca berangkat ke sekolah bareng. Mereka cengengesan di sepanjang jalan. Kenapa? Karena mereka sedang menyiapkan kejutan buat Bayu. Bukan karena ultah, Aya ingin balas dendam ke Bayu. 

"Gimana Ca? Udah lo bawa kan barangnya?" Tanya Aya yang masih memastikan apakah barangnya di bawa ato engga 

"Aman Ay, ga sabar gue liat muka songongnya Bayu yang tiba tiba jadi histeris ntar." Ucap Caca sambil cengengesan 

"Sama, gue juga. Yuk buruan, sebelum dia berangkat." Aya dan Caca buru buru ke sekotah sebelum Bayu berangkat.

Sesampainya di sekolah, Aya dan Caca terus mengendap endap menuju kelas mipa 1, yaitu kelasnya Bayu.

"Buruan gih lo masuk Ay, gue tunggu lo di sini, sekalian jaga jaga." Ucap Caca sembari ngedorong tubuh aya biar cepet masuk. Aya menganggukkan kepalanya dengan mantab lalu mulai melangkah masuk. Aya terus mengendap endap mencari meja Bayu. Setetah menemukan meja Bayu, Aya metetakkan sebuah mainan kecoa di laci Bayu.

Kenapa kecoa? Ya tentu saja karena Bayu takut kecoa. Kenapa Aya tau? Karena Aya punya teman yang pernah sekelas dengan Bayu. Saat sudah meletakkannya dengan aman, Aya segera keluar kelas. 

"Gimana?" Tanya Caca yang sedari tadi masih siaga di depan pintu mipa 1. Aya hanya mengangguk mantab langsung menarik tengan Caca buat segera pergi dari tempat tersebut. 

Pukul 06.15, Bayu sudah tiba di kelas. Di kelas tersebut hanya ada Doni dan 2 teman lainnya. 

"Bay, pinjem catetan fisika lo dong, gue kemarin belum nyatet." Ucap doni yang tiba tiba menghampiri Bayu. 

"Yaa, bentar gue ambilin dulu." Bayu merogoh rogoh isi tasnya. Menilik setiap nama bukunya. Ga ada nama fisika." Bentar don, kok ga ada ya,." Lanjutnya 

"Di laci mungkin?" Sanggah Doni yang ikut mencari di tas Bayu. 
"Ohh iya, kemaren belom gue masukin ketas. lya nih di laci." Saat Bayu hendak menilik lacinya, dia melihat kecoa di dalam sana.

"WAAA MONYETT BABII AYAMMM. SIAPA NIH YANG NAROH KECOA MATI DI LACII GUEE. JAWABBB." teriakan Bayu membuat anak anak kelas bergegas menghampirinya yang tengah histeris sambil berdiri di atas kursi.

"Yaelahh Bay, ini mah cuman kecoa mainan. Nih kalo ga percaya." Doni menyodorkan mainan kecoa tersebut ke arah Bayu yang masih bergidik geli.

"Brengsek tu cewek. Liat aja ntar." Ucap Bayu kemudian dia keluar dengan tampang marah menuju kelas ips 1, yaitu kelasnya Aya.

Brakkkk....
Suara gebrakan meja dari Bayu membuat suasana kelas Aya hening. Atmosfer terasa sesak seketika saat Bayu mulai menatap tajam Aya, Aya sebaliknya menatap bayu dengan tatapan meremehkan. 

Bayu menarik kerah Aya, sontak anak anak yang melihatnya bergidik ngeri menatap dua kubu yang siap berperang. 

"Maksud lo apa naroh kecoa mainan di laci gue, HAH?!" Terdengar suara Bayu yang penuh dengan penekanan. 

"Hohoho. Lo takut ya sama mainan kecoanya?" Suara gelagak Aya membuat Bayu semakin naik pitam. Saat hendak menampar pipi kanan Aya, Caca yang sedari tadi melihat kelakuan Bayu juga ikut turun tangan. 

Grepp.... 
"Lo mau apa? Nampar? Nampar Aya? Sini kalo berani tampar gue dulu." Tangan kiri Caca menepuk nepuk pelan pipi Caca sendiri. 

"Dengan senang hati" plakk....
Tamparan berhasil lolos dan mendarat di pipi kiri Caca. Sontak anak anak beserta Aya yang menyaksikan langsung kaget. Apalagi Caca, baru pertama kali dia di tampar oleh cowok. 

"Bangsatt lo Bay." Tangan Aya siap menampar pipi kanan Bayu, tapi ga jadi. Soalnya tangan Bayu lebih dulu menangkap tangan Aya. 

"Dengerinn guee semuanya, sekali kali kalian berani sama angkatan mipa, apalagi gue, kalian liat aja. Gue bakalan lebih dari apa yang kalian liat hari ini. Camkan itu!."Ucap Bayu dengan intonasi meninggi. Setelah itu dia melepas cengkeramnya. Bayu keluar. 

"Lo ga kenapa napa kan Ca?" Tanya Aya yang begitu cemas. Soalnya dia tau kalo tamparan tadi begitu keras walaupun bukan dia yang ngerasain. 

"Ga apa apa Ay, yang penting lo ga kenapa napa." Ucap Caca yang masih meringis menahan nyeri di pipinya 

"Umm, Ay, Ca. Maafin kita ya, yang ga bisa bela kalian tadi." Seorang wanita, teman seketas Aya dan Caca menghampiri mereka. Meminta maaf dengan tutus. 

"Iyaa, ga apa apa. Toh tadi cuman tamparan sepele. Santai aja keles hehehe." Ucap Caca. Caca memang baik sama siapapun. Tapi dia akan menjadi sangat menyebalkan jika ada orang yang memperlakukannya tidak wajar

********

Aya dan Caca pulang pukul 17.00. Memang ga wajar sih, mereka bukan Osis ato Rohis. Mereka pulang begitu larut karena mau menghilangkan bekas memar di pipi Caca. Caca ga mau membuat orang tuanya khawatir.

"Udah ga keliatan memar kan Ay?" Tanya Caca yang masih melihat cermin, memastikan wajahnya memang sudah sembuh.

"Iyaa sudah kok." Jawab Aya dengan intonasi meyakinkan sehingga membuat Caca semakin pede. 

Di sisi lain Saat ini adek Bayu pulang telat karena ada les tambahan. Adek Bayu memastikan ke Bayu kalo dia ga perlu di jemput. Soalnya ada temen seperjalanan pulang. Tapi saat pulang, tenyata temannya di jemput oleh orang tuanya, katanya ada urusan penting jadi harus buru buru pulang.
Adek Bayu hanya tersenyum kecut. Jadinya dia pulang sendiri, kalo mau telepon abangnya mungkin akan sangat mengganggu. Adek Bayu tipe orang yang peka. Di saat yang bersamaan, Aya dan Caca melihat anak kecil yang sedang di buntuti oleh orang aneh.

"Ngapain tu orang buntutin anak kecil?" Tanya Caca yang sedari tadi juga ikut memperhatikan. 

"Ikutin yuk Ca, perasaan gue ga enak." Ucap Aya yang langsung di angguki oleh Caca. Mereka berjalan ga jauh dari jarak orang asing tersebut. Dan ternyata dugaan Aya benar. Dia mau menculik anak kecil tersebut.
Anak kecil tersebut meronta ronta saat orang aneh itu mendekap mulutnya. Tanpa basa basi Caca maju lebih dulu dan melepaskan tendangannya mengenai belakang kepala si penculik. Aya langsung menarik anak kecil itu untuk berlindung dari arena tersebut.

"Sebentar ya dek, ga bakalan lama kok." Aya meninggalkan anak kecil tersebut lalu ikut serta dalam adu jotos. 2 lawan 1. Kita menang.

Si penculik itu lari kocar kacir sambil ngarahin telunjuk tengahnya ke arah kita. Caca pun membalasnya dengan memperlihatkan 2 jari tengahnya. 

"Adek ga apaapa? Ada yang sakit ga? Sesak gitu?" Tanya Caca setelah melihat kondisi anak kecil tersebut. 

"Mila ga papa kak, hanya kaget. Untung ada kakak kakak hebat yang nolongin mila." Ucap anak kecil itu yang ternyata adalah adek Bayu.

"Sepertinya kita pernah ketemu kak?" Tanya Mila sambil menunjuk Aya 

"Benarkah?" Tanya Aya memastikan. Dia sedikit bingung dengan kalimat Mila 

"Ahh Mila ingat, kakak kan yang waktu itu rebutan samyang sama kak Bayu?" Aya pun langsung mengingat saat nama manusia laknat itu di sebut.

"Kamu adiknya bayu?" Tanya Caca penasaran. 

"Iya kak, kakak temannya kak Bayu juga kan?" Tanya Mila dengan wajah polosnya. Mila memang memiliki paras wajah yang mirip dengan Bayu 

"Teman? Kita itu mumphhh." Kalimat Caca terputus saat tangan Aya membungkamnya. 

"Mu-?" Tanya Mila dengan wajah polosnya. 

"Mu? Siapa yang bilang mu? Ya, kita temennya Bayu." Ucap Aya dengan intonasi lembut sambil tersenyum. Caca berhasil lepas dari bungkaman Aya." Mari Mil, kakak antar kamu pulang. Biar lebih aman." Lanjut Aya dan langsung di angguki Mila sebagai jawabannya.

********

"Abanggg, adekk pulang." Suara dari luar khas Mila membuat Bayu bergegas keluar. 

"Lama banget dek pul--" kalimat Bayu terpotong saat melihat Aya dan Caca berdiri persis di hadapannya. 

"Ngapain lo kesini." Tanya Bayu dengan intonasi ketus. Wajahnya berubah dari khawatir jadi masam. 
"Ihh apaan sih bang, seharusnya abang berterima kasih ke kakak kakak ini." Ucap Mila sambil menenangkan bayu

"Kenapa?" Tanya Bayu yang begitu bingung dengan keadaan.

Mila menceritakan kejadian dari awal mau pulang bareng temannya hingga akhirnya di tolong oleh Aya dan Caca.

"Oh." Ucap Bayu setelah mendengarkan penjelasan adiknya.
"Oh doang?" Caca yang sedari tadi menahan emosi dikarenakan ada Mila, di sekarang ga tinggal diam. Dia angkat bicara.

"Iya. Emang kenapa?" Tanya Bayu sambil menyenderkan badan di pinggiran pintu sambil melipat tangannya di depan dada. 

"Ga. Kita pulang dulu. Milaa," ucap Aya dengan intonasi lembut. Membuat Mila mendekat ke Aya." Besok lagi hati hati ya saat mau pulang. Lihat sekeliling udah aman ato belum.Ya?!" Lanjut Aya sambil mengusap pucuk rambut Mila 

"Iya kak, makasih ya kak." Sahut Mila sambil tersenyum manis. Caca juga ikut tersenyum lembut ke arah Mila

Aya dan Caca meninggalkan gerbang rumah Bayu. Di saat itu juga Mila menatap abangnya yang masih bersenderan di pinggiran pintu. 

"Bang, adek kecewa sama abang." Tanpa mendengarkan perkataan Bayu, Mila melangkah masuk ke dalam kamar. Blalnm.....

'Lo ga tau aja dek, masalah gue sama mereka sekarang." Ucap Bayu yang masih menatap ke lantai dua, kamar Mila 

Minggu

Di minggu pagi yang cerah ini, Aya selaku pemilik kamar berukuran besar sedang tertidur lelap. Matanya mulai menyipit saat cahaya mentari menembus tirai tirai kamarnya.

Bukanya bangun, Aya malah membenarkan posisi selimutnya dan kembali tidur. Saat hendak kembali tidur, tiba tiba ada tangan yang menarik selimut Aya dengan paksa lalu menggoyang goyangkan badan Aya. 

"Ayaaaa woee bangun lo keboo. Katanya mau jogging bareng. Woee Ayaaaa." Suara Caca membuat Aya terkesiap langsung duduk dengan posisi merem sedikit. 

"Hoammtn ck ck. Ngapain sih lo Caa, pagi pagi dah bikin atmosfer di kamar gue pengap." Ucap Aya yang menggaruk garuk kepalanya yang gatal habis bangun tidur. 

"Siap siap gih. Gue tunggu di bawah." Ucap Caca sambil berdiri meninggalkan Aya yang masih duduk di atas kasur size king nya. 

"Kita mau kemana?" Tanya Aya yang berusaha melek

"Kuburan. Ya jogging lah. Udahh cepetann. Dasar kebo." Blam... 
Caca menutup pintu Aya dan beranjak turun. Aya juga segera ke kamar mandi buat cuci muka langsung mengenakan pakaian jogging.

*********

"Aduhh Ca, capek gue. Istirahat bentar napa." Ucap Aya yang mulai kelelahan. 

"Gue beliin minum dulu ya." Kata Caca sambil berlari lari kecil menghampiri mesin kola di seberang taman. 

Cesss "Njirr. Kaget gue. Btw makasih ya." Aya menerima kola yang di beliin Caca. Saat mereka hampir menghabiskan kola tersebut, Caca melihat dua amuba yang akan melintas di depan mereka. 

"Ay, lo liat ya." Saat dua amuba melintas persis di hadapan mereka, Caca melempar kaleng kola yang telah tandas. Pletak...

"Woee bangke, siapa nih yang pukul pala orang pake kaleng kola, hah?" Ya. Kepala Bayu lah yang terkena lemparan dari Caca. 

"Ups sory bang, gue ga sengaja." Ucap Caca yang masih bersandar santai di deket Aya sambil melipat tangannya di depan dada. 

"Sialan lo. Kesini bisa ga!" Ucap Bayu yang sekarang sangat geram terhadap Caca

Tanpa perintah 2 kali, Caca dan Aya langsung maju menghampiri 2 amuba. Ya.Yang satunya lagi tu adalah Doni. 

"Apa bang?" Tanya Caca sambil memasang muka senengnya karena berhasil tepat sasaran saat melempar kaleng tersebut. 

"Bang bang, gausah banyak bacot. Maksut lo apa lempar sembarang kaleng ke gue hah?" Tanya Bayu sambil nunjuk kaleng yang jatoh di dekatnya 

"Mau tau?" Tanya Aya yang kemudian dia memegang sambil menepuk nepuk pelan pipi kiri Caca yang kemarin di tampar oleh Bayu. 

"Lo mau bales dendam?" Tanya Bayu yang sekarang dalam keadaan melipat tangannya di depan dada. 

"Menurut lo?" Sebelum Aya mendengar kalimat Bayu, Aya memutar bola matanya lalu menggandeng lengan Caca buat pergi dari tempat tersebut. 

"Cewek brengsek." Ucap Bayu sambil menggeretakkan rahangnya dan mengepalkan kuat kuat tangannya

"Tuh kan Bay, gue bilang juga apa. Si Aya tu ga ada tandingannya kalo di ajak musuhan." Kemudian Doni ikut bicara saat Aya dan Caca tak lagi tampak 

"Tauk ah, gue mau pulang. Lo kalo mau mampirya silakan." Ucap Bayu sambil berlalu meninggalkan Doni yang masih berdiri di tempat. Doni menggambil kaleng tersebut lalu membuangnya ke tempat sampah. 

"Gue berharap lo dapat hikayah Bay,"guman Doni sebelum mengikuti langkah Bayu yang semakin jauh. "Tunggu Bay." Lanjutnya 

Aya dan Caca pulang ke rumah Aya, mama Aya yang sudah menyiapkan sarapan, mengajak mereka buat sarapan pagi. Aya dan Caca langsung menuju meja makan. Meja makan tersebut di penuhi dengan canda tawa.

"Papa mana ma?" Tanya Aya yang masih mengunyah makanannya. Mama bilang kalo papanya sudah berangkat kerja tadi pagi pagi buta. 

Setelah selesai sarapan, Aya dan Caca menuju lantai dua yaitu kamar Aya yang besar.

"Gila to ca, sumpah gue ga nyangka lo bakalan kek gitu." Ucap Aya yang sudah berbaring di kasurnya dan di susul Caca 

"Itu namanya trik balas dendam ay. Gue ga terima ya Ay waktu dia nampar gue di depan temen temen. Sekarang gue dah puas." Sahut Caca sambil mengangkat bahu. Aya hanya cengengesan mendengar kalimat Aya barusan.

********

Pukul 09.00, Mila, adek Bayu sudah dandan bak princess hendak keluar rumah. Mila belom ijin sama Bayu, soalnya Mila masih ngambek sama Bayu. Saat hendak keluar rumah, saat itulah juga Bayu hendak masuk ke rumah sehabis olahraga.

"Mau kemana dek?" Tanya Bayu sambil sesekali mengelap keringat di pelipis dan lehernya. Sebenernya Mila mau ngediemin Bayu sepanjang hari ini, tapi ga bisa.

"Mau keluar." Sahut Mila sambil menampakkan muka datar, acuh ke Bayu
 
"Kemana? Biar abang anter." Tawar Bayu sambil berjongkok di hadapannya. Mila masih diam. Tak berkutik sedikitpun. 

"Dek, jawab abang. Adek mau kemana?" Tanya Bayu sekali lagi. Dia mulai geram sama Mila 

"Bukan urusan abang," ucap Mila dan kemudian dia melewati abangnya lalu keluar

"Lo marah ama abang? Dek, abang kasih tau ya. Abang bersikap dingin ke mereka karena kita punya masalah. Lo harusnya bisa ngertiin abang dek." Ucap Bayu tanpa menengok ke belakang. Bayu tau kalo Mila akan mendengarkan setiap kalimatnya.

Mila mulai memikirkan kembali, kemudiam dia berjalan mendekati Bayu sambil memetuknya dari belakang. 

"Abang„" ucap Mila dengan suara parau."Maafin Mila ya bang, Mila ga tau kenapa Mila jadi gampang ke bawa suasana gini. Janji deh Mila ga bakalan ngediemin abang" Lanjutnya yang masih memeluk Bayu dari belakang

"Iya, abang maafin. Tapi beneran iho kamu ga bakalan ngulangin kA\aya' gini lagi." Sahut Bayu yang kemudian membalikkan badannya dan mulai membalas pelukan Mila, sang adik kecilnya. 

"Yeyy makasih bangg. Oh iya bang, tadi abang tanya kan Mila mau kemana? Mila tu sebenernya mau beli samyang di minimarket depan komplek." Ucap Mila sambil memancarkan wajahnya yang kembali berseri seri

"Mila tunggu sebentar, abang mandi duku lalu antar Mila ke mall." Ucap Bayu sambil mengusap pucuk kepala Mila

"Kok ke mall? Di minimarket aja bang, deket." Sanggah Mila yang memegangi tangan Bayu yang masih mengusap pucuk kepalanya

"Ga apa apa. Nanti abang kasih Mila kesempatan buat borong apapun yang Mila mau." Ucap Bayu sambil tersenyum manis. 

"Yeyy thanks you abangg Mila yang paling gantenggg." Ucap Mila sambil memeluk badan atletis Bayu. Kemudian Bayu bergegas mandi.

********

Saat tiba di mall, Mila langsung berlarian ke arah jajanan jajanan kesukaannya. Bayu hanya melipat tangannya di depan dada sambil melihat tingkah adiknya yang sangat menggemaskan. Dan di saat itu pula, Mila melihat Aya yang sedang berbelanja camilan. Mila mendekati Aya dengan mengendap endap ingin mengagetinya dari belakang.

"WWA KAGETT." Sontak Mila memegangin dadanya yang masih terkejut. Ya benar. Bukan Mila yang mengageti, tetapi malah Aya sendiri yang mengageti

"Ihh kak, kok kakak bisa tau kalo Mila mau ngagetin kakak?" Tanya Mila yang masih setengah terkejut 

"Ehhehe, tuu di pojokan sana kan tempat cermin. Tadi kakak ga sengaja liat cermin, terus dari belakang liat kamu yang sedang mengendap endap buat kagetin kakak. Ee tau tau malah kamu yang kaget." Sahut Aya sambil cengengesan mencoel coel pipi Mila.

"Wahh Mila kurang pro nih." Ucap Mila sambil senyum kearah Aya. Tiba tiba dari kejauhan, mereka mendengar suara Mila di teriaki."Milaaa lo kemanaa sih." Ya seperti itulah. 

"Mila sama abang?" Tanya Aya. Sebenrnya Aya mau langsung pergi, tapi tangan Mila lebih cekatan menahan tangan Aya. 

"Banggg, Mila di sini." Ucap Mila yang masih memegangi tangan Aya. Mendengar suara Mila, Bayu segera menghampirinya. Dia berhenti 1 meter saat melihat Mila ga sendirian. Melainkan sama Aya. 

"Daripada abang sama kakak cuman tatap tatapan, mending kita makan aja. Mila laper nih." Ucap Mila membuat suasana yang tadinya mencekam berubah jadi lengang. 

"Ehh, gausah mil, kakak mau pulang aja. Lagipula kakak juga sudah puas belanjanya." Ucap Aya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kakak duluan ya mil, da Bayu." Ucap Aya. Seketika muka Mila menjadi mendung. Bayu yang mengetahuinya langsung menahan tangan Aya.

"Mending lo ikut kita makan." Ucap Bayu yang masih menggengam tangan Aya. Sebenernya Aya ogah ogahan makan bareng Bayu. Apalagi Bayu adalah musuhnya. Demi melihat muka Mila yang kembali ceria, Aya mengganguk. 

"Nahh gitu dongg. Yuk biar Mila yang pilih tempatnya di atas." Mila langsung berjalan riang di depan, sedangkan Aya dan Bayu berjalan 1 meter di belakang Mila.

"Tumben lo baik ke gue." Ucap Aya yang menatap sinis Bayu "Ini demi Mila. Bukan lo." Ucap Bayu sambil memutar bola matanya.

"Gue juga tau kok." Ucap Mila yang kemudian menyibakkan rambutnya ke belakang. 

"Kalo tau ya diem aja. Gausah banyak bacot." Sahut Bayu dengan intonasi datar. 

"Yee gue juga punya mulut kalik. Terserah gue dong. Yang bacot juga gue." Sahut Aya ga kalah judes.

"Lo anak ips bacot mulu ya." Tiba tiba Bayu menghentikan langkahnya di depan Aya sehingga membuat Aya menabrak dada bidang Bayu. 

"Dari pada anak mipa, banyak gaya." Sahut Aya dan kemudian menyusul Mila yang sudah menaiki eskalator.

Mall

"Abanggg, Mila mau es krimm." Ucap Mila yang tengah duduk manja di bangku paling pojok. Mila memang paling pintar dalam memilih sesuatu, buktinya dari tempat yang dipilih Mila, mereka bisa langsung menikmati pemandangan malam kota jakarta yang di penuhi dengan kendaraan yang berlalu lalang, gedung gedung pencakar langit. 

"Iyaa, lo mau apa." Tanya Bayu ketika mereka sudah duduk saling berhadapan. 

"Kaya' Mila aja. Es krim." Jawab Aya masih dalam nada datar. Bayu pun melangkah ke kedai es krim. Memesan 2 mangkuk es krim yang begitu menggoda tenggorokan. 

"Nih."
Ucap Bayu setelah kembali membawa 2 mangkuk es krim vanilla coklat dengan toping keju. Aya dan Mila mulai menikmati es krim nya. 

"Abang ga makan? Nih, Mila bagi ke abang." Ucap Mila sambil menyodorkan sendok.

"Engga, abang ke balkon sebentar ya dek," ucap Bayu sambil berdiri. Tak menunggu jawaban dari Mila apakah di bolehin ato ngga. Saat itu juga, Aya melihat Bayu yang sedang memegang batang rokok yang sudah siap mau diisap. 

"Mila, kakak mau ketoilet sebentar ya. Mila jangan kemana mana. Kalo ada orang asing yang mendekati Mila langsung teriak aja. Oke?" Ucap Aya yang kemudian di angguki oleh Mila. Tujuan Aya bukan toilet. Melainkan menghampiri seseorang yang sedang berdiri di balkon sambil menyenderkan badannya. 

"Lo ngrokok?" Tanya Aya kepada Bayu, yang membuat Bayu ga jadi menyalakan batang rokoknya. 

"Iya. Emang kenapa." Sahut Bayu sambil bersiap kembali untuk menyalakan korek apinya

"Lo ga malu sama adek lo? Lo ga kasian sama Mila.? Mungkin Mila akan kaget, bahkan syok saat melihat abang yang paling di cintainya, di bangga banggakan ternyata sedang mencoba merusak badannya sendiri. Lo anak mipa, seharusnya tau kalo merokok dapat menyebabkan kerusakan pada organ tubuh. Punya tubuh tu dijaga. Bukan malah di rusak." Aya mengakhiri kalimat panjang lebarnya. Bayu yang menyimak dari tadi pun ga jadi buat melanjutkan merokoknya. Dia membuang batang rokok yang ada di jemarinya jauh jauh. 

"Puas?" Tanya Bayu yang kemudian berdiri tepat di hadapan Aya sambil memojokkan Aya di dinding balkon. 

"Kenapa lo tanya gue? Gue cuman menasehati selagi yang gue omongin tu fakta. Kalo lo mau sakit sakitan ya sok lahh, lanjutin aja kegiatan lo tadi. Minggir, adek lo nungguin gue di dalem." Kemudian Aya mendorong lengan Bayu yang dari tadi menahannya. Aya segera duduk kembali di bangkunya. 

"Kakak lama banget sih. Mila hampir takut lho sendirian." Ucap Mila sambil memanyunkan bibir mungilnya.

"Hehehe maafin kakak ya Mil, tadi kakak kebelet banget." Aya berbohong ke Mila, sedetik kemudian Bayu juga menghampiri mereka berdua. Ikut duduk. 

"Abang lama banget sih perginya. Nih makan. " ucap Mila yang hendak menyuapi Bayu dengan sendok yang berisi es krim 

"Anak kecil ga boleh kepo yaa." Kemudian Bayu membuka mututnya, menerima suapan dari sang adik tercinta.

********

Aya tiba sampe rumah pukul 19.00. Mamanya yang begitu khawatir kemudian kembali cerah saat melihat Aya yang menghampiri mamanya. 

"Yaampun, nak. Kamu kemana aja sih? Dari jam sembilan pagi sampe jam tujuh malem kok baru pulang." Tanya mama Aya dengan intonasi khawatir. 

Kemudian Aya menceritakan kegiatannya tadi pagi sampe sekarang. Mama Aya hanya tersenyum lembut, lalu menyuruh Aya untuk segera makan malam. 

Pukul 22.00. Aya belum tidur, Aya masih asik dengan aktivitas malamanya, yaitu nonton drakor. Bukan Aya namanya kalo tidur di bawah jam 21.00. Aya bisa berjam jam menonton drakor di layar laptopnya. 

Bahkan Aya pernah tidur yan 01.00 dini hari. Padahal saat itu Aya sedang menjalankan ujian. 

Tok tok tok Aya tau kalo yang mengetuk pintu pasti mamanya. Kemudian Aya beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu.

Cklekk....
"Ada apa ma?" Tanya Aya 
"Kok belum tidur nak?" Tanya mama Aya saat melihat bola mata Aya yang masih bening. Belum menandakan adanya rasa kantuk. 

"Masih nonton drakor ma. Kenapa ma? Mama mau ikut nonton?" Sahut Aya kemudian membuka pintu lebih lebar. 

"Ishh apa sih nak, udah sana tidur. Besok kamu sekolah. Mama ga mau kamu kesiangan kaya' kemarin." Ucap mama Aya sambil berlalu meninggalkan Aya di depan pintu. Kemudian Aya nurut, Aya mematikan laptopnya kemudian beranjak tidur.

********

"Hoammmm ck ck.
"Lo begadang lagi Ay?" Tanya Caca yang melihat sahabatnya sedang meringkuh diantara dua tangannya yang dilipat di meja. Aya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Caca. 

"Mending lo icip kuah bakso gue." Caca menyuruh Aya buat mengangkat kepalanya. Lalu Aya menyeruput kuah bakso Caca yang ternyata sangat pedas sehingga membuat mata Aya langsung melek. 

"Wahh gila lo Ca. Pedes banget inii. Sini gue minta minuman" Kemudian Caca memberi minumannya ke Aya. Dengan segera, Aya menghabiskan minuman tersebut. Rasa pedas masih menempel di lidah Aya. Kemudian Aya beranjak berdiri, lalu membeli segelas lagi minuman. 

"Wahh parah lo Ca. Lidah gue masih pedes nihh." Ucap Aya sewot dan di susul dengan ketawa dari Caca.

"Makanya Ay, gue udah kasih tau kan. Anak cewek begadang tu ga baik. Besok kalo lo dah nikah terus lo sering begadang terus lo bangunnya kesiangan terus suami lo marah marah terus lo--" kalimat Caca terpotong saat telunjuk lentik Aya menempel di bibir Caca. 

"Sttt. Brisik banget sih. lyaa Cacaa, gue tau. Tapi lo tau kan gue gimana,." Ucap Aya kemudian melepaskan telunjuknya dari bibir Caca. 

Caca hanya mendengus kesal, dia begitu perhatian sekali terhadap kesehatan sahabatnya. Aya dan Caca kembali ke kelas.

Mereka melewati koridor yang banyak di lewati anak anak lainnya. Saat hendak berbelok, bahu kiri Aya ga sengaja bersenggolan dengan Rere. 

"Aww, idiot. Jalan pakek mata." Ucap Rere dengan intonasi kasar, Rere memutar bola matanya saat Aya meminta maaf.

"Ga sudi gue nerima maaf lo." Sahut Rere sambil bertalu menjauhi Aya dan Caca. Caca yang begitu geram dengan sifat Rere, dia mendekati langkah kaki Rere dari belakang lalu menjambak rambut Rere. 

"Lo punya hati ga sih,?! Jelas jelas Aya sudah minta maaf lo malah seenak jidat bilang ga nerima maaf. Tuhan aja mau maafin masa' lo yang cuman manusia biasa aja sok sok an nolak maaf." Hardik Caca sambil menunjuk nunjuk bahu Rere. Rere yang sedang sendiri, memilih diam dan menatap tajam ke arah Aya dan Caca.

"Udah ca, mending kita pergi aja. Percuma juga kasih tau baik baik ke batu. Yuk." Aya menarik tangan Caca untuk segera menjauh dari tempat tersebut. Rere yang sudah naik pitam, ia hanya mengepalkan tangannya lalu memukulkannya ke tembok. Bukk....

"Aww sakit juga nampol tembok." Ringkih Rere sambil mengelus etus kepalan tangannya yang berwarna merah memar.

Saat tiba di kelas, Rere langsung mengadu ke Bayu. Dia membuat buat cerita seakan akan dia yang tersakiti

"Bayuu, hiks." Sapa Rere ke Bayu sambil menampakkan tangannya yang memar.
"Apa?" Jawab Bayu sekilas, latu memperhatikan layar hp nya kembali.
"Tangan gue memar." Ucap Rere yang sekarang duduk persis di samping Bayu 
"Terus?" Tanya Bayu datar tanpa memalingkan sedikitpun ke arah Rere.

Rere yang mulai jengkel terhadap sikap Bayu, dia menyenggol hp Bayu yang kemudian jatuh di lantai. Bayu kaget kemudian dia segera mengambil hp nya yang jatuh tadi. Saat di teliti, ternyata pelindung kacanya retak total.

"Lo apa apaan sih re. Lihat nih!" Suara Bayu meninggi kemudian dia memperlihatkan pelindung kacanya yang retak total ke muka Rere.
"Pecah goblokk. Rese banget sih lo. Cuman memar biasa aja lo ngadu ke gue. Emang gue emak lo apa. Lo bikin mood gue tambah ancur. Minggir. Ga sudi gue liat muka lo" Lanjut Bayu.

Untung saat itu di kelas hanya ada mereka berdua, yang lainnya masih berhamburan di kantin dan lapangan. Kemudiam Bayu beranjak pergi dari kelas. Rere yang masih syok kemudian perlahan lahan air matanya mengucur deras di pipinya. Dia begitu menyesal, 

"Rere, lo memang pantes mendapat cercaan dari Bayu." Umpat Rere untuk dirinya sendiri

Bersambung

Tidak ada komentar: