Header Ads

Mengubah Paradigma : Indahnya Toleransi Antar Suku Yang Ada di Kalimantan Barat

#CeritaBunda

Pertama kali memutuskan untuk menikah dengan orang Kalimantan Barat, ada penolakan kecil dari pihak keluarga, namun aku mulai menyakinkan bahwa Kalimantan yang sebenarnya bukanlah seperti yang banyak di isukan di tanah jawa, biarpun sebenarnya aku sendiri kurang yakin karena belum pernah ke sana waktu itu

Karena jika berbicara tentang kalimantan masih banyak kalangan yang berfikir kalau kalimantan itu adalah sebuah pulau dengan hutan yang lebat dan di dalamnya banyak binatang besar yang masih buas

Serta ada yang beranggapan jika suku di sana masih masih sangat tradisional yaitu menggunakan pakaian yang terbuat dari kulit pohon atau tanaman lainnya

Paling terkenal adalah suku dayak dengan kekuatan mistis dan magisnya itu, apalagi setelah kejadian konflik sampit yang sangat terkenal itu, yang menjadi paradigma bahwa di kalimantan itu tidak ada toleransi antar suku

Berfikir tentang itu, kadang aku juga ragu untuk memutuskan  menikah dengan orang kalimantan

Namun karena saat menempuh pendidikan banyak sekali bertemu dengan orang kalimantan, bahkan mereka menjadi teman baikku

Ega Mawarni, Dwi Elpani, Simonsius, Rani Muarif, Hapi (suamiku), meraka semua adalah suku melayu kecuali Simonsius yang bersuku dayak, dari mereka semualah aku banyak belajar tentang kalimantan

Mereka banyak bercerita tentang adat dan kehidupan di kalimantan, dari cerita meraka itu kalimantan bukanlah seperti yang aku dan banyak orang pikirkan selama ini

Kehidupan di kalimantan sangat menjunjung tinggi toleransi, mereka mengatakan suku dayak, melayu, cina dan banyak lagi yang hidup berdampingan dalam kesehariannya, saling berinteraksi satu sama lain tanpa ada sekat

Berbekal pengetahuan dari teman baikku itu lah aku bisa menyakinkan orang tuaku, sehingga bisa menerima dan akhirnya aku pun menikah dengan mas Hapi

Pada tanggal 13 februari 2019 aku dan keluargaku untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah kaliamantan

Akupun harus membuktikan sendiri apa yang di ceritanya teman - teman ku itu, ternyata saat sampai di Pontianak dan menuju ke Sambas, aku tidak menemukan hutan dan orang yang berpakaian tradisional seperti yang ada di benakku itu

Diperjalanan menuju sambas, aku dan keluarga sempat terpukau saat melintasi sebuah kota yang membuat perasaanku sedang berada di negara Hongkong seperti yang sering ku lihat di film


Banyak sekali lampion di jalanan dengan bergemerlap cahaya yang sangat indah, ada patung naga yang sangat besar di tengah jalan dan yang paling membuatku yakin akan cerita temanku adalah saat aku melewati bangunan tempat ibadah dua agama yaitu masjid dan klenteng






Masjid dan Klenteng itu di bangun berdekatan, aku menjadi semakin yakin ternyata kalimantan sangat menjunjung tinggi nilai toleransi itu, ternyata kota yang aku lewati itu bernama Singkawang

Informasi

Berdasarkan hasil penilaian indeks kota toleran (IKT) dari 94 kota yang dilakukan Setara Institute, menempatkan kota Singkawang menjadi kota paling toleran di Indonesia


Untuk menyakinkan, aku ikut ke tempat suami ku berkerja di kota Jagoi Babang, di perumahan tempat suami ku itu ternyata juga bertetangga dengan banyak orang dari berbagai daerah ada dari NTT, NTB, Jawa, dan yang pasti suku dayak, melayu


Mereka semua bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain tanpa ada melihat suku maupun agama apa yang di anut, semua saling menghormati

Bahkan ketika ada renovasi masjid banyak sekali warga setempat yang mayoritas beragama kristen membantu pembangunan masjid

Sungguh, ternyata apa yang ada di benakku selama ini hanya terbentuk dari informasi atau cerita yang menyebar hanya dari mulut ke mulut yang sudah di "bumbui"


Aku sudah membuktikannya dengan mata dan kepalaku sendiri, Kalimantan itu adalah tempat paling menjunjung tinggi toleransi yang pernah aku temui


Makanya mulai sekarang bagi siapapun yang membaca cerita ku ini, dan masih beranggapan bahwa kalimantan itu seperti apa yang kuceritakan di awal, harus kita ubah ya


Semoga Bermanfaat

Tidak ada komentar: