Header Ads

Perjalanan Panjang Menuju Rumah Mertua di Perbatasan Paling Utara Negara Indonesia



#CeritaBunda

Pagi yang cerah menyelimuti langit jogja, aku dan kedua orang tua serta adek yang paling bungsu itu mulai menata koper serta beberapa oleh-oleh untuk mertua

Hari ini cukup menyenangkan bagi ku, karena untuk pertama kalinya aku dan keluargaku akan menginjakkan kaki di tanah khatulistiwa, adekku yang bungsu itu bernama Pawes, dia sangat senang sekali saat tau akan ikut pergi ke kalimantan

Namun adek yang satunya lagi, namanya Risky. ia tidak bisa ikut karena belum liburan sekolah dan akan ikut ujian akhir sekolah tahun ini

Setelah semuannya siap, bapak mulai menelpon keponakkannya untuk mengantar kami ke bandara Adi Sitjipto

Padahal jam baru menunjukkan angka 12 siang, sedangkan saya ambil penerbangan jam 05.10 Wib (mungkin takut ketinggalan pesawat lagi pikirku)


[Pembicaraan Telpon]
Bapak : Hallo Mas, Lagi dimana?? Saya sudah siap. Ayo Berangkat Sekarang
Mas A : Oh iya pakde, saya kesana sebentar lagi

Tak beberapa lama kami menunggu di luar rumah, mobil mas A pun datang menjemput dan akupun memasukkan semua barang bawaan ke dalam mobil

Mobilpun lansung melesat menuju bandara, tidak banyak pembicaraan di dalam mobil semua diam sambil memandangi keadaan lalu lintas

Sekitar empat puluh lima menit perjalanan, kami semua tiba di terminal kedatangan bandara adisutjipto, bapak, ibu dan dek pawes pun lansung bergegas turun,

Saat aku mengeluarkan barang dari dalam mobil, tiba tiba dek pawes lansung datang sambil mendorong troli, sehingga bisa untuk menaruh barang yang berat ini

Karena Meja Check In untuk penerbangan Pontianak belum di buka, jadi aku, bapak dan ibu duduk di kursi jajar yang ada di bandara, sementara pawes sibuk mondar mandir dengan kegiatannya (ya maklum anak baru umur delapan tahun), sekali minta di beliin snack

Ibu : Oh ya mbak Dwi, mas Hapi sudah di kasih tau
Aku : Udah kok Bu, Tadi sudah di chat

Setelah cukup lama menunggu, aku pun memantau monitor yang menginfokan penerbangan yang ada di bandara

Ternyata untuk penerbangan ke Pontianak dengan maskapai **xx telah tertulis "Check In - Open" yang menandakan bahwa meja untuk check in telah dibuka

Akupun lansung mengajak Ibu, Bapak dan Pawes untuk masuk, saat datang di tempat check in ternyata hanya ada beberapa orang yang sudah antri untuk penerbangan Pontianak

Setelah check in, ternyata kami mendapat nomor awal, semoga bisa dekat jendela pikirku (karena sangat indah melihat pemandangan di dekat jendela kaca pesawat)

Diruang tunggu tiba tiba pawes mulai bercerita tentang kejadian kecelakaan pesawat beberapa waktu lalu, sebenarnya aku agak kesal dengan tingkah dek pawes

Karena itu akan membuat ibu dan bapak jadi merasa was was, apalagi saat pesawat yang akan membawa kami nanti, tepat parkir di depan kami.

Dek Pawes : Pesawatnya kok kelihatan kecil ya mbak, Ngak stabil

Ucapan dek pawes itu semakin membuat ibu was was yang kelihatan jelas di muka ibu, namun aku mulai mengalihkan pembicaraan dek pawes itu hingga ada panggilan untuk memasuki pesawat

Satu persatu kami memasuki pesawat berurutan dengan penumpang lain, dan di sambut manis oleh para awak kapal, dan kamipun menempati kursi sesuai dengan nomor yang ada pada saat boarding

Cuaca cukup cerah saat mau berangkat, namun saat asik melihat kondisi di luar terdengar suara bel tiga kali yang di ikuti oleh suara seseorang dalam bahasa inggris


"Dear passengers, welcome to … flight to … Flights to … will take us with in …  hour and … minutes, with a cruising altitude of … feet above sea level. We need to inform you that … flight is without cigarette smoke, before take off we invite you to hold the chair back, close and lock the small tables that are still open in front of you, tighten the seat belt, and open the window cover. On behalf of … captain … and all the crew on duty congratulated this flight, and thank you for your choice to fly with …"

Ternyata itu adalah seorang pramugari yang sedang menginformasikan penerbangan yang akan di jalani

Tidak lama setelah itu, pesawat pun mulai bergerak dari tempat parkirnya menuju landasan pacu, pesawat mulai mempercepat kecepatannya hingga mulai terangkat dan penerbangan dimulai . .

Berada di kursi dekat jendela itu sangat menyenangkan karena aku bisa melihat pemandangan kota jogja dari atas, hingga gunung merapi

Disaat penerbangan ibu dan bapak istirahat sedangkan aku dan pewes melihat lihat awan dari jendela kaca itu, namun di sudut barat awan kelihatan orange karena memang sudah sore, saat asik melihat keluar. pramugari pun menyapa untuk menawarkan kami snack dan air mineral


Satu jam empat puluh menit perjalanan kami pun tiba di bandara Supadio Pontianak dan kondisi diluar pun sudah gelap karena jam pun sudah menunjukkan jam 6 sore


Keluar dari pesawat kami lansung ke tempat pengambilan bagasi, sambil menunggu barang kami berfoto di icon tugu khatulistiwa yang ada di bandara Supadio

Ibu : Mbak dwi, mas Hapi udah di telpon biar bisa jemput
Aku : Tadi udah bu, ada temannya yang jemput
Ibu : Oh iya

Setelah berfoto ria, kami pun lansung mengambil barang yang kami masukkan ke bagasi dan membawanya dengan trolli yang ada di bandara

Sampai diluar bandara, aku lansung menelpon suami ku

[Pembicaraan Telpon]
Aku : Pa, aku sama ibu udah di luar bandara ni
Mas Hapi : Ok, Tunggu tepat di depan pintu keluar ya, nanti ada yang jemput
Aku : Ok

Lima menit kemudian ada seorang menyapa, "Keluarga Hapi" ungkapnya. "Iya" spontan jawabku. "Ayo naik mobil, barangnya biar saya aja yang masukin ke bagasi" ungkap orang itu yang ternyata langganan suami saat pergi ke Pontianak

Saat pejalanan aku sempat melihat jam yang ada di mobil, jam waktu itu menunjukkan angka 07:35  (malam) Wib . lalu bapak bertanya ke driver tersebut

Bapak : Kira kira kita smapai jam berapa ya?
Driver : Paling cepat jam 12 malam pak
Bapak : Jauh juga ya

Aku, ibu juga dek pawes melihat lihat di sekeliling jalan kami sempat melewati tugu bambu yang diatasnya sangat runcing, ini pasti iconik pontianak, pikirku (baru aku tahu ternyata itu Tugu Digulis)

Tidak jauh dari itu, kami pun melewati jembatan besi yang sangat panjang sapai dua kali, lalu bapak pun bertanya lagi ke drivernya

Bapak : Kalimantan ini banyak sungai ya, jembatannya aja panjang kayak itu
Driver : Iya pak, yang pertama tadi itu jembatan kapuas, yang ini namanya tol (jembatan) landak
Ibu masih melihat-lihat ke arah luar, tak lama setelah itu

 - "Stop mas" ungkap ibu ke drivernya,
 - Ya kenapa bu (jawab driver sambil menghentikan mobilnya),
 - Itu benar harga langsat Rp 5000 / Kg tanya ibu kembali (oh ternyata mata ibu tergoda lihat harga langsat di pontianak hanya Rp 5000, karen di jogja harga langsat biasanya Rp 15000 / Kg)
 - Saya mau beli sebentar ya mas ., Murah soalnya. Kata ibu
 - Oh iya silakan bu . . kata driver

Lalu ibu pun membeli beberapa kilogram untuk di bawa ke rumah mertua di sambas, setelah itu perjalanan panjang pun di lanjutkan

Aku, ibu dan Pawes pun istirahat sambil memejamkan mata sambil mobil melanju sedangkan bapak mengobrol bersama drivernya

Sesekali aku melihat jam yang ada di Hp, jam menujukan pukul 10.55 (malam) Wib, dan diluar ternyata sedang hujan deras, akupun melanjutkan istirahat kembali

Ibu : jauh juga ya mbak dwi rumah orang tua (mertua) mu

Setelah berjam jam perjalanan akhirnya kami sampai juga di rumah mertua, tapatnya samapai jam 12:45 Malam hari, Mas Hapi pun sudah menunggu di pinggir jalan sambil membawa beberapa payung karena memang hujan sangat deras

Sampai di rumah kita ngobrol sebentar, lalu istirahat karena perjalanan kali ini sangat melelahkan.

Ini lah pengalaman pertama aku dan keluarga di Kalimantan Barat